Selasa, 12 April 2011

Jadi Gay karena Kurang Serotonin



KOMPAS.com — Selain gerakan toleransi terhadap kamu homoseks, hingga kini penelitian tentang sebab homoseksualitas terus dilakukan. Salah satunya adalah penelitian Yi Rao dari Peking University dan National Institute of Biological Sceinces, Beijing.
Senyawa serotonin diketahui berpengaruh pada aktivitas seksual, seperti ereksi, ejakulasi, dan orgasme. Yi Rao kemudian meneliti pengaruh serotonin terhadap orientasi seksual tikus putih percobaannya.
Untuk meneliti, Rao menggunakan tikus putih jantan yang telah direkayasa gennya. Ia membuat tikus putih percobaannya tidak mampu memproduksi serotonin dengan menonaktifkan gen yang berperan dalam produksi senyawa tersebut.
Hasilnya, tikus putih tanpa serotonin ternyata cenderung menyukai sesama jenisnya. Tikus putih tersebut mendendangkan lagu cinta dalam frekuensi ultrasonik yang biasanya didendangkan ketika ingin mengawini betina.
Rao juga menemukan bahwa 60 persen pejantan tanpa serotonin menghabiskan waktunya untuk mencumbui dan membaui genital sesama jenisnya. Sementara pejantan dengan serotonin cenderung mendekati lawan jenisnya.
Ketika Rao menginjeksikan senyawa serotonin, ia melihat bahwa para tikus tersebut cenderung tertarik pada lawan jenisnya. Sementara ketika serotonin terlalu banyak, tikus tak akan tertarik pada kedua jenis.
Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi serotonin dalam tubuh tikus putih menentukan orientasi seksualnya. Serotonin harus berada dalam konsentrasi tertentu sehingga mendukung perilaku homoseks ataupun heteroseks.
Apakah hal yang sama menjadi sebab homoseksualitas pada manusia? Elaine Hull, pakar rodensia Florida State University yang tak terlibat penelitian, mengatakan, "Hal yang sama mungkin juga memengaruhi homoseksualitas atau biseksualitas pada manusia."
Namun, ia dan co-author penelitian Zhou Feng Chen mengingatkan agar kesimpulan penelitian ini tak ditanggapi berlebihan. Hail penelitian ini tak serta-merta menjelaskan sebab homoseksualitas pada manusia.
"Informasi lebih diperlukan untuk menentukan lokasi otak yang terlibat dalam regulasi serotonin dalam hal itu sebelum melompat pada kesimpulan bahwa serotonin adalah senyawa yang berpengaruh pada ketertarikan antar lelaki," kata Hull.
Hasil penelitian ini dipublikasikan di jurnal Nature pada 24 Maret 2011 lalu. Penelitian ini merupakan kali pertama peneliti mampu mendeskripsikan pengaruh neurotransmitter seperti serotonin terhadap orientasi seksual.
Sebelumnya, penelitian tentang sebab homoseksual juga telah dilakukan, misalnya, terkait volume otak kanan dan kiri. Sejauh ini, beberapa ilmuwan meyakini bahwa homoseksual adalah sesuatu yang telah terberi, bukan sebuah penyakit.

So Gay for Less Serotonin
KOMPAS.com - In addition to your tolerance for homosexual movement, until now the research about the cause of homosexuality continues to be done. One is the study Yi Rao of Peking University and National Institute of Biological Sceinces, Beijing.
Compounds known to affect serotonin in sexual activity, such as erection, ejaculation, and orgasm. Yi Rao then examined the effect of serotonin on sexual orientation white mice experiments.
To investigate, Rao uses white male rats that had been genetically engineered. He made the white rat experiments are not able to produce serotonin by turning off genes that play a role in the production of these compounds.
As a result, white mice without serotonin turns tend to like others of its kind. White mice hummed a love song in an ultrasonic frequency which is usually sung when they want to marry a female.
Rao also found that 60 percent of males without serotonin spend the time to caress and smell genital lesbian. While males with serotonin tend to approach the opposite sex.
When Rao inject the compound serotonin, he saw that the mice tend to be attracted to the opposite sex. Meanwhile, when too much serotonin, rats would not be attracted to both types.
This shows that the concentration of serotonin in the body of white rats to determine their sexual orientation. Serotonin should be in a certain concentration so that support homosexual or heterosexual behavior.
Does the same thing cause homosexuality in humans? Elaine Hull, an expert rodensia Florida State University who was involved in the research, said, "The same thing might also influence homosexuality or bisexuality in humans."
However, he and co-author of the study Zhou Feng Chen reminded that the conclusions of this study can not be taken excessively. Hail this study do not necessarily explain the cause of homosexuality in humans.
"More information is needed to determine the location of the brain involved in the regulation of serotonin at it before jumping to the conclusion that serotonin is a compound that affects the attraction between men," said Hull.
The results of this study published in the journal Nature on March 24, 2011 last. This study is the first time researchers were able to describe the influence of neurotransmitters such as serotonin on sexual orientation.
Previously, research on the causes homosexuality have also been carried out, for example, related to the volume of left and right brain. So far, some scientists believe that homosexuality is something that has terberi, not a disease.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons