Jumat, 04 Februari 2011

Lebih Dekat dengan Bakteri Genus Staphylococcus

 Dalam dunia mikrobiologi, kita mengenal bakteri dengan berbagai macam variasi genus dan spesies. Salah satu genus bakteri yang menjadi fokus perhatian adalah bakteri Staphylococcus. Pada sistem klasifikasi binomial (tata nama dengan dua susunan kata), genus ini diklasifikasikan sebagai berikut.
  • Kerajaan: Eubacteria.
  • Filum: Firmicutes.
  • Kelas: Bacilli.
  • Ordo: Bacillales.
  • Familia: Staphylococcaceae.
  • Genus: Staphylococcus.

Profil Staphylococcus
Bakteri Staphylococcus merupakan bakteri gram positif. Bakteri Staphylococcus memiliki bentuk sel bulat seperti bola. Umumnya, sel-sel bakteri Staphylococcus tampak di bawah mikroskop dengan berkelompok membentuk koloni mirip susunan buah anggur. Sebagian besar bakteri Staphylococcus berada di permukaan kulit dan hidung manusia.
Bila permukaan dua organ tersebut ditumbuhkan di dalam sebuah kultur, mayoritas bakteri yang memenuhi adalah genus Staphylococcus. Pertumbuhan koloni inilah yang menjadikan seorang biolog bernama Rosenbach, 1884, mengelompokkan bakteri ini ke dalam dua nama yang berbeda sesuai penampakannya media pertumbuhan bakteri.
Dua kelompok tersebut adalah kelompok Staphylococcus aureus yang berwarna kuning dan kelompok Staphylococcus albus atau non-Staphylococcus aureus yang koloninya berwarna putih. Dalam Bergey’s Manual, sumber referensi penggolongan bakteri, dari 19 spesies Staphylococcus yang ditemukan, hanya dua spesies yang interaksinya sangat signifikan dengan manusia.
Spesies itu adalah Staphylococcus aureus dan Staphylococcus albus. Saat ini, Staphylococcus albus dikenal dengan nama Staphylococcus epiderdimis. Staphylococcus aureus dapat ditemukan di daerah sekitar hidung manusia, sedangkan Staphylococcus epiderdimis sebagian besar berada di permukaan kulit manusia.
Pada sistem klasifikasi sebelumnya, Staphylococcus berada dalam familia Micrococcaceae. Karena setelah diselidiki Staphylococcus tidak mempunyai hubungan genetis dengan Micrococcus, saat ini, Staphylococcus memiliki familia sendiri, yaitu Staphylococcaceae. Staphylococcus adalah bakteri anaerob fakultatif atau membutuhkan sangat sedikit oksigen untuk bisa bertahan hidup.
Oleh karena itu, sebagian besar kelompok Staphylococcus mampu melakukan fermentasi asam laktat. Bakteri Staphylococcus juga merupakan bakteri dengan metabolisme katalase positif, sedangkan negatif untuk metabolisme oksidase. Genus Staphylococcus mampu tumbuh dan berkembang pada kisaran temperatur antara 15 hingga 45 derajat celcius. Toleransi salinitas atau kadar garam yang dimiliki oleh bakteri ini adalah sekitar 15 persen.

Mengenal Dua Spesies Staphylococcus
Staphylococcus aureus bersifat haemolitik ketika ditanam dalam darah. Sementara Staphylococcus epidermidis, nonhaemolitik. Oleh sebab itu, strain Staphylococcus aureus umumnya lebih patogen dibanding Staphylococcus epiderdimis. Hampir semua strain Staphylococcus aureus mampu menghasilkan enzim koagulase atau enzim penggumpal.
Bakteri yang mampu menghasilkan koagulase, seperti Staphylococcus aureus, dianggap berpotensi besar sebagai patogen yang mampu menginvasi sel lain. Pada osteomielitis, Staphylococcus memang menjadi penyebab utama penyakit tersebut. Staphylococcus aureus tumbuh pada pembuluh-pembuluh darah dalam tulang sehingga terjadi nekrosis pada tulang dan kerapuhan luar biasa serta mengeluarkan nanah yang tak bisa berhenti hanya dalam hitungan bulan.
Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan keracunan pada kulit, seperti jerawat, bisul, dan keluarnya nanah pada bagian kulit mana pun. Mengapa demikian? Perlu diketahui bahwa racun atau toksin Leukosidin yang dikeluarkan oleh Staphylococcus aureus dapat mematikan sel darah putih manusia. Sebaliknya, Staphylococcus edpiderdimis merupakan flora normal kulit. Hanya berbahaya jika kulit terkena infeksi sehingga pertumbuhan Staphylococcus epiderdimis tak terkendali.

Pencegahan Penyakit Akibat Staphylococcus Aureus
40% hingga 50% manusia membawa Staphylococcus dalam tubuhnya sehingga potensi untuk menjadi patogen dalam tubuh manusia sangat besar. Apalagi, jika Anda menyiapkan makanan dengan tangan. Anda juga harus berhati-hati. Enterotoksin yang dihasilkan oleh Staphylococcus tidak bisa mati dalam suhu di bawah 70 derajat celcius. Jadi, pastikan makanan Anda matang sempurna.
Penyakit akibat toksin Staphylococcus aureus dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan, cuci tangan sebelum makan, tidak menggunakan barang-barang yang berpotensi terkena infeksi kulit secara bersama-sama, seperti handuk, sikat gigi, dan pakaian.

http://www.anneahira.com/bakteri-staphylococcus.htm

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons