Rabu, 15 Juni 2011

Burung Mewarisi Indera Penciuman yang Tajam dari Dinosaurus








Rabu, 13 April 2011 - "Yang mengejutkan, penelitian kami menunjukkan bahwa indera penciuman justru membaik selama evolusi dinosaurus-burung, sama halnya seperti penglihatan dan keseimbangan."
Burung lebih dikenal memiliki indra penglihatan dan pendengaran daripada indera penciuman, namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa jutaan tahun yang lalu, makhluk bersayap juga mengandalkan indera yang lebih baik terhadap bebauan.
Sebuah studi yang dipublikasikan pada tanggal 12 April oleh para ilmuwan di University of Calgary, Royal Tyrrell Museum dan Ohio University College of Medicine Osteopathic menguji pandangan lama bahwa selama evolusi dari dinosaurus ke burung, indera penciuman menurun selagi burung mengembangkan indera penglihatan, pendengaran dan keseimbangan untuk penerbangan. Tim ini membandingkan buli penciuman di dalam otak dari 157 spesies dinosaurus dan burung purba maupun modern.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B ini berlawanan dengan teori tersebut. Para ilmuwan menemukan bahwa indera penciuman justru meningkat pada evolusi burung awal, memuncak jutaan tahun yang lalu selama waktu ketika nenek moyang burung modern bersaing dengan dinosaurus dan lebih banyak lagi cabang-cabang purba dari keluarga burung.
“Diyakini sebelumnya bahwa burung begitu sibuk mengembangkan penglihatan, keseimbangan dan koordinasi untuk penerbangan di mana indera penciuman mereka berskala mundur,” kata Darla Zelenitsky, asisten profesor paleontologi di University of Calgary dan penulis utama penelitian. “Yang mengejutkan, penelitian kami menunjukkan bahwa indera penciuman justru membaik selama evolusi dinosaurus-burung, sama halnya seperti penglihatan dan keseimbangan.”
Dalam upaya melakukan studi yang paling rinci untuk melakukan penanggalan pada evolusi indra penciuman, tim riset melakukan pemindaian tengkorak dinosaurus dan burung punah untuk merekonstruksi otak mereka. Para ilmuwan menggunakan pemindai untuk menentukan ukuran buli penciuman, bagian otak yang terlibat dalam indera penciuman. Di antara burung modern dan mamalia, buli yang lebih besar sesuai dengan indera penciuman yang tinggi.
“Tentu saja jaringan otak yang sebenarnya sudah lama hilang dari fosil tengkorak,” kata rekan penulis studi Lawrence Witmer, Professor Paleontologi di Ohio University College of Osteopathic Kedokteran, “namun kami bisa menggunakan CT scan untuk memvisualisasikan rongga otak dan kemudian menghasilkan rendering komputer 3D buli penciuman serta bagian otak lainnya.”
Penelitian ini mengungkapkan rincian tentang bagaimana burung mewarisi indera penciuman dari dinosaurus.
“Burung tertua yang diketahui, Archaeopteryx, mewarisi indera penciuman dari dinosaurus kecil pemakan daging sekitar 150 juta tahun yang lalu,” kata Fran├žois Therrien, kurator palaeoekologi dinosaurus di Royal Tyrrell Museum dan rekan penulis penelitian. “Kemudian, sekitar 95 juta tahun yang lalu, “Sekitar 95 juta tahun yang lalu, kemampuan penciuman nenek moyang semua burung modern bahkan berevolusi dengan lebih baik.”
Seberapa baik dinosaurus melakukan penciuman, terutama dibandingkan dengan hewan modern? Meskipun para ilmuwan belum bisa membuat perbandingan mendalam, Witmer mencatat bahwa binatang buas purba adalah yang paling mungkin menunjukkan berbagai kemampuan penciuman. T. rex memiliki penciuman besar, yang mungkin membantu makhluk tersebut melacak mangsa, menemukan bangkai dan mungkin bahkan berperilaku teritorial, sementara indera penciuman mungkin kurang penting untuk dinosaurus seperti Triceratops, katanya.
Tim riset mampu membuat beberapa perbandingan langsung antara hewan purba dan modern dengan penelitian ini. Archaeopteryx, misalnya, memiliki indra penciuman yang mirip dengan merpati, yang mengandalkan bau untuk sejumlah perilaku.
“Nasar kalkun dan elang laut adalah burung yang juga terkenal dengan indera penciuman tajam, yang mereka gunakan untuk mencari makanan atau bernavigasi di wilayah yang luas,” kata Zelenitsky. “Penemuan kami di mana dinosaurus kecil mirip-Velociraptor, seperti Bambiraptor, memiliki indera penciuman sama berkembangnya dengan burung nasar kalkun dan elang laut, menunjukkan bahwa bebauan mungkin telah memainkan peran penting saat dinosaurus-dinosaurus tersebut berburu makanan.”
Jika burung-burung awal memiliki pendengusan yang hebat, mengapa burung memiliki reputasi indera penciuman yang buruk? Witmer menjelaskan bahwa studi terbaru mengkonfirmasikan bahwa burung yang paling umum yang ditemui manusia masa kini – seperti burung gagak dan finch, serta beo peliharaan yang bertengger di halaman belakang – memang memiliki buli penciuman yang lebih kecil dan indera penciuman yang lemah. Mungkin tidak kebetulan bahwa yang terakhir adalah juga burung pintar, menunjukkan bahwa meningkatnya kecerdasan mereka mungkin telah mengurangi perlunya pendengusan yang tajam, katanya.
Penulis lain dalam artikel meliputi Amanda McGee, seorang mahasiswa pascasarjana di University of Calgary, dan Ryan Ridgely, rekan penelitian di WitmerLab di Ohio University. Penelitian ini didanai dengan hibah untuk Zelenitsky dari Natural Sciences and Engineering Research Council of Canada di Kanada dan untuk Witmer dan Ridgely dari U.S. National Science Foundation.

Sumber: faktailmiah.com


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons