Sabtu, 15 Januari 2011

Badak Sumatera



Badak Sumatera merupakan salah satu mamalia dilindungi, nama ilmiah badak Sumatera adalah Dicerorhinus Sumatrensis, berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari suku kata; Di berarti dua, Cero berarti cula dan rhinos berarti hidung, sedangkan Sumatrensis merujuk pada Pulau Sumatera (akhiran ensis dalam bahasa Latin menunjuk pada wilayah atau daerah).
Badak Sumatera dapat dijumpai mulai dari kaki pegunungan Himalaya di hutan dan India Timur, menyebar ke seluruh Myanmar, Thailand, dan Semenanjung Malaysia, dan di pulau Sumatera serta Kalimantan. Pada umumnya jenis ini dapat hidup dengan lebih baik di habitat alamnya dibandingkan badak Jawa. Hal ini sebagian mungkin karena satwa ini lebih banyak menghuni pegunungan dan hutan di dataran tinggi dimana tidak banyak gangguan pembangunan dan pembalakan. Sebaliknya dengan badak Jawa yang merupakan jenis yang tinggal di daerah pantai dan lembah sungai (SKBI, 1993:57).
Populasi Badak Sumatera baik di Indonesia maupun di seluruh dunia sangat terancam punah. Populasi yang ada saaat ini sangat kecil, tersebar dan sebagian besar terancam oleh perburuan liar dan lenyapnya habitat. Sungguhpun seandainya tidak terjadi kehilangan jumlah lebih lanjut, populasi yang ada sekarang ini sangat kecil sehingga sangat peka terhadap bencana alam, kelemahan genetik dan demografik, sebagaimana umumnya terjadi pada populasi yang kecil. Berdasarkan data dari International Rhino Foundation pada tahun 2005 diperkirakan populasi badak Sumatera saat ini hanya sekitar 300 (tiga ratus) ekor yang tersebar di hutan-hutan Sumatera, penyebarannya terdapat di daerah Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Taman Nasional Kerinci Seblat dan hutan di Riau (Dedi Candra, 2005: 6-7. “ Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumatrensis),” Warta Konservasi Taman Nasional Way Kambas. Edisi Kedua).
Keberadaan badak Sumatera terancam punah akibat perburuan sejak tahun 1992. Perburuan yang terjadi sering memutus mata rantai perkembangan satwa langka yang sejak tahun 2001 masuk dalam Appendix I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna/CITES (Konvensi perdagangan internasional flora dan fauna langka) (Siaran Pers Dephut No: S.374/II/PIK-1/2005).
Faktor penyebab menurunnya populasi badak Sumatera, selain karena ancaman perburuan liar maupun adanya perambahan dan konversi hutan antara lain, juga disebabkan sulitnya satwa ini untuk berkembangbiak di habitatnya yang dipengaruhi oleh sifat dan karakteristik satwa tersebut.
Karateristik badak Sumatera antara lain, adalah sebagai berikut:
·        menurut Taksonomi, badak Sumatera tergolong dalam suku Rhinocerotidae bangsa perissodactyla (berkuku tiga), kekerabatan terdekat dengan suku Tapiridae (tapir) dan suku Equidae (kuda), merupakan mamalia normatif sejati;
·        tinggi badannya antara 120 cm – 135 cm, panjangnya antara 240 cm – 270 cm dengan berat tidak lebih dari 900 kg;
·        lapisan kulit tidak terlalu banyak, hanya dua lipatan besar yang menonjol. Lipatan yang pertama melingkari paha di antara kaki depan dan lipatan yang kedua di atas perut bagian samping serta terdapat beberapa lipatan kecil di daerah leher;
·        warna kulit umumnya coklat tua kemerahan, tetapi penampilan akan berubah tergantung dari air atau lumpur tempat berkubang;
·        tubuhnya ditumbuhi rambut (eksotik) walaupun rambut yang lebat hanya tumbuh di ujung telinga. Inilah yang paling membedakan badak Sumatera dengan badak lainnya;
·        memiliki 2 (dua) cula, cula belakang lebih pendek dari cula depan bahkan kadang hanya berupa bongkol kecil. Cula badak jantan lebih panjang dibandingkan badak betina; hidup soliter (menyendiri) di dalam hutan yang luas kecuali pada musim kawin;
·        sangat suka berkubang; suka berjalan jauh, sangat sensitif dengan daya penciuman dan pendengaran yang sangat baik dan merupakan satwa nocturnal (aktif di malam hari);
·        perkembangbiakan atau reproduksinya sangat lambat, awal kawin umur 6-7tahun, bunting 15-18 bulan, mengasuh anak selama 2 (dua) tahun, setiap lahir hanya satu ekor;
·        bagian tumbuhan yang biasa dimakan adalah pucuk daun, ranting, batang, kulit, akar, bunga dan buah dengan kesukaan dominan tingkat sapling seperti semak dan pohon-pohonan. Adapun cara makan Badak Sumatera adalah dengan memangkas, menarik, merobohkan atau mematahkan;
·        keberadaan badak Sumatera dapat dideteksi dari jejak khas yang ditinggalkannya, potongan bekas makan, tanda putaran bekas semak (twisting) dan urinasi bekas demarkasi atau kubangannya yang jelas berbeda dari satwa lainnya (terdapat bekas cula di dinding kubangan),

 

 

Sumatran Rhinoceros

Sumatran rhinoceros is one of the protected mammals, scientific names are Dicerorhinus sumatrensis Sumatran rhinoceros, comes from Greek, from syllable; In means two, Cero means horn and Rhinos means nose, while sumatrensis refers to Sumatra Island (in Latin suffix ensis refers to the region or regions).

Sumatran rhinos are found from the Himalayan foothills in the forest and Eastern India, spread across Myanmar, Thailand and Peninsular Malaysia and in Sumatra and Kalimantan. In general, this type can live a better life in their natural habitat than the Javan rhinoceros. This is partly perhaps because these animals inhabit more forest and mountain in the highlands where not a lot of disruption of development and logging. In contrast with the Javan rhinoceros is the species that live in coastal areas and river valleys (SKBI, 1993:57).

The population of Sumatran rhinos in Indonesia and around the world was threatened with extinction. Saaat population there is very small, scattered and most are threatened by poaching and habitat disappearance. Although the number lost if no further, the existing population is very small so it is very sensitive to natural disasters, genetic and demographic weakness, as generally occurs in small populations. Based on data from International Rhino Foundation in the year 2005 estimated population of Sumatran rhinos is currently only about 300 (three hundred), tails spread in the forests of Sumatra, spreading there in Way Kambas National Park, Mount Leuser National Park, Park Hill South Barisan , Kerinci Seblat National Park and the forests in Riau (Dedi Candra, 2005: 6-7. "Sumatran Rhinoceros (sumatrensis Dicerorhinus)," News Conservation Way Kambas National Park. Second Edition.)

The presence of endangered Sumatran rhino from poaching since 1992. Hunting that occurs frequently breaking the chain of development of rare animals which since 2001 included in Appendix I Convention on International Trade in the Endangered Species of Wild Flora and Fauna / CITES (Convention on international trade in endangered flora and fauna) (MoF Press Release No: S.374 / II/PIK-1/2005).

Factors causing the declining population of Sumatran rhinos, as well as the threat of poaching and the encroachment and forest conversion, among others, also caused difficulties for the breeding of these animals in their habitat is influenced by the nature and characteristics of these animals.

 

Characteristics of Sumatran rhinos, among others, are as follows:

·        according to the Taxonomy, Sumatran rhinoceros belong to the tribe Rhinocerotidae nation perissodactyla (hoofed three), the closest kinship with the tribe Tapiridae (tapir) and the rate Equidae (horses), is a true normative mammals;

·        height between 120 cm - 135 cm, in length between 240 cm - 270 cm with a weight of no more than 900 kg;

·        layer of skin is not too much, only two major folds are prominent. The first folds encircling the thigh between the front leg and a second fold on the side of the abdomen and there are some small creases in the neck area;

·        skin color is generally reddish brown, but the appearance will change depending on the water or mud wallow place;

·        body covered with hair (exotic), although the dense hair only grows in the ear tip. This is what most distinguishes Sumatran rhino with other rhino;

·        have 2 (two) horns, rear horns shorter than the front horn sometimes even just a little hump. Rhinoceros horns male longer than female rhino; solitary (alone) in the vast forests except in mating season;

·        loved to wallow; like walking far, are very sensitive to the power of smell and excellent hearing and is a nocturnal animal (active at night);

·        breeding or reproduction is very slow, early marriage age 6-7tahun, 15-18 months pregnant, caring for children for 2 (two) years, every birth is only one tail;

·        the plant is commonly eaten shoots, twigs, stems, bark, roots, flowers and fruit with a dominant favorite Sapling level as shrubs and trees. The Sumatran Rhinoceros way of eating is to cut, pull, tear down or break;

·        presence of Sumatran rhinos can be detected from a typical trace left behind, the former dining pieces, marks the former bush round (twisting) and urination marks a clear demarcation or kubangannya different from other animals (there are horns on the wall of a former trash dump),

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons