Minggu, 31 Oktober 2010

PANDUAN TEKNIS PENYADAPAN GETAH PINUS


foto penyadapan getah pinus
Penyadapan Getah Pinus
Getah pinus berada pada batang dimana didalam saluran getah yang arahnya vertical ( longitudinal ) maupun horizontal ( radial ). Saluran getah ini terbentuk secara lisigen, sizogen, maupun sizoligen. Beberapa ketentuan pohon pinus yang akan disadap :
a. Diameter limit cupping, diameter pohon pinus yang akan dsadap adalah diatas 15cm.
b. Selective cupping, pohon-pohon yang akan disadap adalah pohon yang waktu mendatang dijarangi atau ditebang yaitu sejak umur 10 tahun samapai pada daur tebangan atau umur penjarangan. Biasanya dilakukan pada perusahan pengelolaan pinus yang menggunakan pinus untuk berbagai kegunaan.
Beberapa cara teknik penyadapan :
· Bentuk koakanTeknik ini dilakukan denagn cara mengerok kulot batang lebih dulu, kemudian kayunya dilukai sedalam 1-2 cm, sedang lebarnya 10 cm. Pelukaan dengan cara ini membentuk huruf U terbalik dengan jarak dari permukaan tanah sekitar 15-20 cm. Pelukaan yang baru diatas luka lama dengan tebal jarak 5 mm.
· Bentuk V Teknik ini hamper sama dengan teknik diatas tetapi berbebtuk huruf V. dapat juga dimodifikasi menjadi V ganda atau seri arah keatas ( rill) yang bentuknya seperti sirip ikan.
· Goresan atau guratana; Cara ini pada penyadapan pinus jarang dilakukan, umumnya dilakukan pada agathis ( kopal ). Hal ini mengimgat kulit pinus yang tebal. Goresan dilakukan dengan kemiringan 45° atau melingkar.
· Dengan bor; Dengan syarat diameter 3 cm, 3-12 cm keatas atau kedalam.
· Dari keempat teknik tersebut yang paling efektif atau paling banyak menghasilkan getah pinus adlah dengan menggunakan metode koakan, kemuidian teknik bentuk V dan teknik bor.

Berikut ini urutan penyadapan untuk koakan pada pinus :
· Mula-mula kulit batang pada tempat yang akan dibuat pelukaan dibersihkan selebar 10-12 cm kearah atas dimulai dari bawah.
· Kualitas Getah Pinus; Kualitas getah pinus sadapandibedakan atas dua kelas yaitu :
1. Mutu A
a) Berwarna putih bening
b) Tidak ada campuran tanah/lumpur dan kotoran lain (kandungan kotoran kurang dari 2%)
c) Kadar air kurang dari 3 %
2. Mutu B
a) Berwarna keruh –coklat
b) Ada campuran tanah dal lumpur (kandungan kotoran 2-5%)
c) Kadar air lebih dari 3%
Produk getah yang tidak memenuhi ketentuan kelas kualitas tersebut diatas ditolak untuk diterima.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Getah Pinus Hasil sadapan yang diperoleh dipengaruhi oleh :
1) Faktor internal pohon :
a) Jenis pohon Pinus yaitu pinus yang berbeda hasil getahnya misalnya
Jenis pinus letak persen
· Pinus merkusii 6kg/phn/thn gubal 36,3 %
· Pinus palustris 4,2 kg/phn/thn pangkal 0,64 %
· Pinus maritime 3 kg/phn/thn 10 m dpl 0,33 %
· Pinus khasya 7 kg/phn/thn akar 0,70%
a) Persen kayu gubal,yaitu batang kayu Pinus dengan jumlah kayu gubal terbanyak dapat menghasilkan getah maksimum sebab kayu gubal adalah tempat akumulasi getah tertinggi (36 %)
b) Kesehatan pohon,yaitu jika pohon sehat mungkin menghasilkan getah lebih banyak.
c) System perakaran,yaitu Pinus dengan perakaran yang luas berarti mampun menyerap lebih banyak zat makanan dari tanah,sehingga getah lebih banyak.
d) Persen tajuk (lebar dan tinggi tajuk pohon) yaitu Pinus dengan tajuk lebih banyak memungkinkan proses fotosintesis lebih optimal dan menghasilkan banyak getah.
2) Faktor Ekstern (Lingkungan luar pohon), yaitu :
Jarak tanam yaitu hutan pinus dengan jarak tanam yang jarang iklim mikronya tidak lembab dan bersuhu tinggi sehingga menghasilkan getah pinus lebih banyak,demikian sebaliknya.
Iklim dan tempat tumbuh yaitu pohon pinus yang tumbuh didaerah dengan curah hujan tinggi,dingin atau di daerah dengan tinggi > 700 m dpl menghasilkan getah sedikit.curah hujan rata-rata <>
Bonita yaitu pada tanah yang subur memungkinkan menghasilkan getah pinus yang lebih banyak ( ada 7 kelas bonita)
3) Faktor perlakuan oleh manusia
· Bentuk sadapan yaitu hasil sadapan dari bentuk koakan lebih banyak dari rill dan bor
· Arah sadapan yaitu arah menghadapnya luka sadapan menghadap timur paling banyak menghasilkan getah kemudian disusul arah utara,selatan dan barat.
· Arah pembaruan, yaitu kea rah atas atau bawah.pembaruan ke atas menghasilkan lebih banyak getah.
· Upaya stimulansia, yaitu upaya perangsangan pada luka sadapan dengan bahan kimia asam.upaya stimulansia harus menggunakan pedoman yang teliti agar tidak merugikan.bahan stimulansia yang dapat dipakai misalnya asam sulfat,asam oksalat,CuSO4,bolus alba,Ethrel dengan jumlah tertentu yang ditentukan.

4)Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produk
o Asal (umur pohon ) getah yang diperoleh,makin tua makin banyak dan bagus.
o Kualitas getah yang tersedia
o Lama menunggu terasuk penyimpanan,makin lama disimpan makin tidak baik.
o Penyimpana dalam proses pencampuran dengan bahan penolong,bila tepat maka optimal rendemen dan kualitas.
5)Sifat dan Kegunaan
Gondorukem didapat dari hasil pengolahan getah pinus,bersifat rapuh,bening,mempunyai titik leleh rendah dan bau khas terpentin serta tidak larut dalam air.
Manfaat gondorukem adalah :
o Industri Batik : bahan penyampur lilin batik sehingga diperoleh malam.kebutuhn kira-kira 2.500 ton/thn
o Industry kertas : bahan pengisi dalam pembuatan kertas.kebutuhan kira-kira 0,5 % dari produksi kertas atau 2.000 ton/thn
o Industry sabun : sebagai campuran kira-kira 5-10% dari berat sabun.
o Pembuatan Vernish,tinta,bahan isolasi listrik,korek api,lem,industry kulit dan lalin-lain.
o Di luar negeri manfaat lain gondorukem dan derivatnya digunakan untuk membuat resin sintetis,plastic,lem,aspal,bahan pliitur,lak sintetis,industry sepatu,galangan kapal,dll.
Untuk minyak terpentin-nya dapat digukana secara langsung dan muurni melalui upaya distilalsi ualng serta melalui pengolahan lanjutan,misalnya untuk pelarut organic,pelarut resin,bahan semir sepatu,logam dan kayu dan bahan kamfer sintetis dll.

PANDUAN TEKNIS PERSEMAIA TANAMAN PINUS

Pinus merkusii dengan nama daerah tusam banyak dijumpai tumbuh di belahan bumi bagian selatan. Pohon bertajuk lebat, berbentuk kerucut mempunyai perakaran cukup dalam dan kuat. Walaupun jenis ini dapat tumbuh pada berbagai ketinggian tempat, bahkan mendekati 0 meter di atas permukaan air laut, dengan tempat tumbuh yang terbaik pada ketinggian tempat antara 400 – 1500 m dpl, pada tipe iklim A dan B menurut Schmidt – Ferguson, pada curah hujan sekurang-kurangnya 2000 mm/tahun tanpa dengan jumlah bulan kering 0 – 3 bulan.
Jenis ini dapat tumbuh pada berbagai tipe jenis tanah dengan lapisan tanah yang tebal/dalam, pH tanah asam dan mengendaki tekstur tanah ringan sampai sedang. Manfaat jenis pohon ini cukup banyak. Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan ringan, peti, korek api, bahan baku kertas dan vinir/kayu lapis.
Pada umur 10 tahun, pohon sudah dapat disadap getahnya. Dari getah Pinus dapat dibuat gondorukem dan terpentin. Gondorukem digunakan dalam industri batik sedang terpentin digunakan sebagai pelarut minyak cat dan lak.
A. Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Coniferophyta
Kelas : Pinopsida
Ordo : Pinales
Famili : Pinaceae
Genus : Pinus
Spesies : Pinus merkusii Jungh.& De Vr
(Sumber: www.wikipedia.com)
Teknis Persemaian.
1. Pengadaan biji
Biji Pinus merkusii akan mempunyai viabilitas dan daya kecambah tinggi, apabila diambil dari kerucut yang sudah masak dengan ciri-ciri berwarna hijau kecoklatan dan sisik kerucut yang telah mulai melebar kebiruan sedikit. Pengumpulan buah dapat dilakukan setiap tahun, karena berbuahnya setiap tahun. Biji kering berisi antara 45.000 – 60.000 butir setiap kilogramnya.
Sebellum ditabur sebaiknya dilakukan seleksi biji. Biji yang baik mempunyai ciri-ciri warna kulit bij kuning kecoklatan dengan bintik-bintik hitam, agar bentuk biji bulat, padat dan tidak mengkerut. Untuk menyeleksi biji yang biasa juga digunakan cara perendaman. Biji yang akan digunakan sebagi bibit direndam dalam air dan benih yang tenggelam saja menandakan biji baik. Lama biji direndam air dingin 3 – 4 jam sebelumditabur.
2. Penaburan biji
Pada kegiatan ini yang perlu diperhatikan adalah bahan media tabur yang akan digunakan hendaknya mempunyai persyaratan sebagai berikut :
o Bebas dari hama-penyakit (steril)
o Cukup sarang
o Dapat merangsang proses perkecambahan
Dalam hal ini, media tanam yang digunakan adalah dari top soil dai bawah tegakan Pinus. Setelah proses penaburan, bedengan yang sudah siap ditaburi pula oleh daun-daun pinus. Setelah 10 – 15 hari dari saat penaburan, benih akan berkecambah. Proses perkecambahan berlangsung sampai satu bulan.
3. Penyapihan
Sebelum dilakukan penyapihan terlebih dahulu disiapkan kantong plastik yang berisi media tumbuh. Pinus merkusii adalah jenis tanaman yang melakukan simbiose dengan jamur/mikorhiza. Penularan mikorihiza yang paling baik ialah pada waktu pencampuran media tumbuh. Untuk itu, dalam setiap kantong plastik media tumbuh harus dicampur dengan tanah humus yang berasal dari bawah tegakan tua Pinus merkusii.
Media tumbuh untuk jenis tanaman ini yang paling baik adalah campuran dari tanah, pasir dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1 dengan penambahan pupuk NPK sebanyak 0,25 gram setiap kantong yang berisi 300 gram media.
Setelah bibit berumur 5 – 8 minggu di bak tabur kemudian dilakukan penyapihan. Pada saat ini kulit biji sudah terlepas dari kecambah dan bibit telah memiliki daun jarum pertama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain :
o Semai ditanam berdiri tegak lurus
o Akar tidak boleh terlipat
o Hindarkan semai dari kerusakan
o Lakukan penyapihan pada tempat yang teduh
4. Pemeliharaan
Dalam kegiatan ini perlu dilakukan penyiraman semai secara hati-hati, dan untuk menghindarkan damping off perlu dilakukan penyemprotan dengan fungisida. Upayakan agar bibit selama dipersemaian bebas dari gangguan rumput-rumput liar, Serangga maupun penyakit. Untuk itu kebersihan persemaian sangat menunjang keberhasilan bibit yang disapih.
Beberapa hal yang perlu mendapat perhatia n dalam kegiatan ini antara lain :
o Naungan untuk menjaga kelembaban, menahan percikan air hujan dan mengurangi penguapan.
o Penyiraman secara teratur, setiap hari satu kali pagi hari dan sore hari.
o Pemupukan dengan NPK dengan interval 2 minggu sekali.
o Penyulaman pada kantong plastik yang mati bibitnya atau pertumbuhannya jelek
segera dilakukan.
o Perumputan apabila rumput atau tumbuhan liar lainnya mengganggu pertumbuhan tanaman muda.
o Akar-akar yang keluar dari lubang kantong agar dipotong.

PANDUAN TEKNIS STEK PUCUK TANAMAN JATI

FOTO KONDISI TEMPAT STEK PUCUK
LOKASI: KUNINGAN JAWA BARAT
B. Pelaksanaan Teknis
Kebun Pangkas.
1. Tanaman induk berasal dari indukan yang sudah berumur satu tahun.
2. Kebun pangkas di buat pada 12 Desember 2008.
3. Keutuhan pohon induk dipertahankan untuk mencegah kematian.
4. Saat pemangkasan, diperhatikan juga teknis pengambilan pucuk.
5. Pucuk yang layak diambil dengan ciri-ciri memiliki tiga pasang daun, batang berbulu, batang masih muda dan pemotongan dilakukan secara rata.
6. Menjaga kondisi pucuk agar tetap segar dengan di simpan dalam ember yang sudah di isi air.
7. Pemilihan Pucuk dari tanaman induk menggunakan rumus 3:5:7. dalam artian 3 pasang daun 5 cm jarak daun ke daun dan 7 untuk tinggi keseluruhan.
Kondisi Sungkup.
Sungkup terbuat dari bambu yang di tutup dengan menggunakan plastik berukuran 0,5 mm. Sungkup yang dibuat di usahakan tertutup rapat jangan sampai terdapat lubang yang berpeluang masuk keluarnya udara terlal banyak. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi dan kualitas sungkup yang akan mempengaruhi pertumbuhan akar. Sungkup yang dibuat berkapasitas 700 buah untuk per sungkupnya dengan ukuran 1x 5 Meter.
Tahapan Stek Pucuk.
1. Pucuk dari hasil pemangkasan di kumpulkan dan dibersihkan menggunakan air. Hal ini di lakukan agar pucuk dalam kondisi bersih dari kotoran dan agar daun tetap segar.
2. Pucuk kemudian di celupkan kedalam larutan hormon IBA untuk merangsang pertumbuhan akar selama 10 menit.
3. Pucuk yang sudah siap ditancapkan pada polybag yang sudah di beri media tanam dengan perbandingan 3 pupuk : 2 Pasir: 1 Top Soil.
4. Polybag yang digunakan adalah polybag yang transparat dengan maksud agar akar yang tumbuh dapat terlihat dengan jelas saat proses sleksi.
5. Untuk perawatan Stek pucuk di siram setiap pagi dan sore. Waktu ideal, untuk pagi adalah pukul 7-10 dan sore pukul 3-5.
6. Setelah berumur 1-2 minggu dilakukan proses akli, yaitu sungkup sengaja di buka sebelum proses sleksi.
7. Setelah berumur 1,5 bulan dilakukan proses sleksi untuk pemilihan stek pucuk yang akan di pindahkan pada bedeng seeding. Kriteria sleksi stek pucuk diantaranya adalah:
a. Tanaman jati yang sudah tumbuh akar.
b. Akar tumbuh dengan bagus dan banyak.
c. Akar yang keluar dari polybag di pangkas.
d. Daun yang tumbuh sehat.
e. Kuat saat di keluarkan dari sungkup.
f. Pucuk berwarna kekuningan.
8. Jika di temukan tanaman jati yang mati atau layu segera di pisahkan dari sungkup. Sedangkan jika terdapat daun dan batang yang kering harus segera di bersihkan di bersihkan. Untuk tanaman yang masih belum tumbuh akarnya tetapi masih dalam kondisi segar akibat telat tumbuh (Akli) tetap di simpan dalam sungkup.
9. Setelah bibit di perkirakan kuat dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, kemudian di pindahkan ke bedeng open area. Dalam tahapan ini, bibit memiliki resiko kematian.
10. Bedengan dalam open area di alasi plastik terlebih dahulu untuk menekan akar hingga pertumbuhan menjadi rata. Setelah beberapa minggu, media tanam pada polybag akan berkurang seiring dengan pertumbuhan akar yang semakin banyak.
C. Kelemahan Dan Kelebihan Stek Pucuk
Kelebihan dalam stek pucuk ini yaitu tanaman yang di perbanyak memiliki karakteristik yang sama dengan induknya, juga peluang hidup yang lebih besar walaupun pertumbuhan akar terlambat.
Sedangkan kekurangan dari stek pucuk ini yaitu kondisi media tanam dan peralatan yang digunakan harus dalam keadaan yang steril dan bersih. Polybag yang sudah di gunakan dalam sek pucuk ini tidak dapat di gunakan lagi karena kondisi media tanam yang sudah tidak steril.

PERUM PERHUTANI KPH KUNINGAN UNIT JAWA BARAT

Sejarah
Perum Perhutani telah didirikan dengan peraturan pemerintah No. 15 tahun 1972 sebagai realisasi dari undang-undang No.9 tahun 1966. Wilayah kerja Perum Perhutani selanjutnya diperluas pada tahun 1978 dengan masuknya kawasan hutan negara di Propinsi Jawa Barat, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 2 tahun 1978.
Dalam perkembangan selanjutnya, penugasan Perum Perhutani mengalami penyesuaian dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 36 tahun 1986 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara dan disempurnakan pada tahun 1999 melalui penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 1999 tentang Perusahaan Umum Kehutanan Negara (Perum Perhutani).
Pada tahun 2001, bentuk pengusahaan Perum Perhutani ditetapkan oleh Pemerintah sebagai BUMN dengan bentuk Perseroan Terbatas (PT) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2001. Berdasarkan pertimbanganpertimbangan tanggung jawab sosial dan lingkungan yang dimiliki oleh PT Perhutani, bentuk pengusahaan PT Perhutani tersebut kembali menjadi BUMN dengan bentuk Perum berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 2003. Dalam operasionalnya, Perum Perhutani berada di bawah koordinasi Kementrian BUMN dengan bimbingan teknis dari Departemen Kehutanan.
KPH Kuningan merupakan salah satu KPH dari 14 KPH yang ada di wilayah Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. KPH kuningan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 73 / MEN / 52 tanggal 16 juni 1952, tentang penetaoan KPH di Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Kemudian diubah dengan keputusan surat No. 6363 / MEN / 52 wilayah KPH kuningan terbagi dalam 6 BKPH dan terbagi lagi atas 36 RPH.


Letak dan Luas
Secara Astronomik KPH Kuningan terletak pada 6o 51’ – 70o 10’ garis lintang selatan dan 108o – 96o garis Bujur Tumur. Luas KPH Kuningan sebelum kawasan hutan Gunung CIremai dijadikan Taman Nasional adalah 38.660,20 ha, yang terbagi ke dalam 2 wilayah, diantaranya
· Wilayah Kabupaten Kuningan yaitu : 35.104,15 ha
· Wilayah kabupaten Cirebon : 3. 556,05 ha
Batas – batas KPH kuningan :
· Sebelah Tmur berbatasan dengan KPH Pekalongan Barat
· Sebelah Barat berbatasan denagan KPH Majalengka
· Sebelah Utara berbatasan dengan KPH Indramayu SPH Cirebon
· Sebelah Selatan berbatasan dengan KPH Ciamis
Aksesibilitas
Dilihat dari posisi geografisnya KPH kuningan terletak di bagian timur Jawa Barat berada pada lintasan jalan regional yang menghubungkan kota SPH Cirebon dengan wilayah Priangan Timur dan sebagai jalan alternatif jalur tengah yang menghubungkan.
KPH Kuningan dapat ditempuh dengan beberapa jalur arternatif :
· Tasik – Ciamis – Kuningan
· Sumedang – Kadipaten – Majalengka – Kuningan
· Semarang – Brebes – Kuningan
· Indramayu – Cirebon – Kuningan.
Selain itu jarak tempuh KPH Kuningan dari kota besar adalah :
· Cirebon - KUningan + 35 km
· Bandung – Kuningan + 184 km
· Jakarta – Kuningan + 291 km.
Untuk sampai ke BKPH Garawangi bila ditempuh dari KPH Kuningan, yaitu :
· Kuningan – Awilalarangan – Winuhaji – Karangtawang – Lengkong - Garawangi + 15 km
· Kuningan – Cijoho – Ciporang – Ancaran – Sindangsari – Lengkong – Garawangi + 20 km.
Dan untuk menuju RPH Haurkuning sendiri dapat ditempuh dari BKPH Garawangi dengan jalur :
· Garawangi – Lengkonh – Karangtawang – Winuhaji – Awilalarangan – Pasapen – Kadugede – Haurkuning +25 km.
· Garawangi – Ciniru – Hantara – Ciketak – Kadugede – Haurkuning +65 km.
Sedangkan untuk sampai BKPH Cibibingbin bila ditempuh dari KPH Kuningan,yaitu :
· Kuningan – Garawangi – Lebakwangi – Luraguing – Cibeureum – Cibingbin + 44 km
· Kuningan – Cibeureum – Cibingbin + 38 km.
RPH Cimara itu sendiri dapat ditempuh dari BKPH Cibingbin melalui jalur :
· Cibingbin – Sukadana – Sindangjawa – Sumurwiru – Sukarapih – Cimara (Dusun PUrwasari) +10 km.
· Cibingbin – Cibeureum – Sumurwiru – Sukarapih – Cimara (Dusun Purwasari) +13 km.
Topografi
Topografi kawasan hutan KPH Kuningan sangat bervariasi, dari dataran sampai pegunungan, daratan yang agak rendah seperti di wilayah Kuningan bagian Timur.
Berdasarkan elevasi ketinggian tanah, kawasan hutan KPH Kuningan terbagai atas : ketinggian 25 - 100 meter diatas permukaan laut (mdpl) seluas 69.414,92 Ha (58,90 %), ketinggian 500 - 1.000 mdpl seluas 30.538,15 Ha (25,91 %) dan ketinggian lebih dari 1.000 mdpl seluas 6.989,01 Ha (5,93 %).
Geologi
Secara geologi, kawasan hutan KPH Kuningan terbagi kedalam dua kelompok yaitu :
a. Sebelah utara yang sebagian besar daerahnya merupakan daerah Undifferentiated Vulkanik yang sangat subur akibat pengaruh Gunung Ciremai, hanya sebagian kecil yang termasuk daerah Flicone Sedimentari Facies yang kurang subur.
b. Sebelah selatan yang merupakan daerah Micone Sedimentari Facies dan Gabro yang sangat subur. Pada bagian ini terdapat bahan untuk membuat Oker dan Nikel di Kecamatan Kadugede.
Jenis Tanah
kawasan hutan KPH Kuningan memiliki tujuh golongan tanah yaitu Andosol, Alluvial, Podsolik, Gromosol, Mediteran, Latosol dan Regosol. Golongan tanah andosol terdapat di bagaian Barat kawasan hutan KPH Kuningan yang cocok untuk ditanami tembakau, bunga-bungaan, sayuran, buah-buahan, kopi, kina, teh dan pinus.
Keadaan tanah yang ada di di kawasan KPH Kuninga, BKPH Garawangi dan BKPH Cibingbin ini banyak ragamnya, ini disebabkan jenis penyusun atau bahan induk terjadinya tanah berbeda pula, tetapi semuanya itu dipengaruhi juga oleh beberapa faktor lain diantaranya adalah konversi lahan untuk budidaya tanaman di sekitar kawasan hutan. Adapun tanah yang ada kawasan BKPH Garawangi dan BKPH Cibingbin, didominasi oleh jenis tanah warna merah pada perbukitan dan untuk lahan datar dan berbukit yang banyak ditanami jati adalah jenis tanah cadas dan sedikit berkapur. Sedangkan untuk lahan perbukitan sampai landai dapat juga ditanami pinus adalah jenis tanah merah sampei tanah bercadas.
Kedalaman efektif tanah berkisar antara 30 cm samapi di atas 90 cm. Kedalaman efektif tanah merupakan tebalnya lapisan tanah sampai batuan induk atau sampai pada suatu lapisan di mana akar tidak dapat menembus. Sebagian besar tekstur tanah termasuk ke dalam tekstur sedang dan sebagian kecil termasuk tekstur halus. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kepekaan yang rendah dan sebagian kecil sangat tinggi terhadap erosi.
Iklim
Keadaan iklim di kawasan hutan KPH Kuningan dipengaruhi oleh iklim tropis dan angin muson dengan temperatur berkisar antara 180 C hingga 320 C dengan curah hujan pada bagian Barat dan Selatan terutama daerah lereng Gunung Ciremai berkisar anatar 3.000 – 4.000 mm/tahun, sedangkan pada daerah yang semakin datar di bagian Utara dan Timur berkisar anatar 2.000 – 3.000 mm/tahun.
Hidrologi
Sumber mata air yang cukup potensial dalam jumlah yang cukup banyak berada di Darma, Kadugede, Cigugur, Kuningan, Kramatmulya, Jalaksana, Cilimus, Mandirancan dan Pasawahan, yang jumlahnya mencapai 156 titik, terdapat 147 mata air yang mengalir secara terus menerus sepanjang tahun, 4 mata air mengalir selama 9 bulan dalam setahun, 3 mata air mengalir selama 6 bulan dalam setahun, dan 2 mata air mengalir serlama 3 bulan dalam setahun. Selain itu ada beberapa sumber mata air yang digunakan untuk irigasi dan kegiatan pariwisata, diantaranya : Waduk Darma, Darmaloka, Balong Cigugur, Balong Dalem, Talaga remis dan Cibulan. Debit air di kawasan hutan totalnya diperkirakan sekitar 4.625 liter perdetik Sumberdaya air yang terdapat di Kabupaten Kuningan meliputi :
· Waduk : 1 buah
· Situ : 88 buah
· Sungai : 58 buah
· Mata air panas : 6 buah
· Mata air : 627 titik
Sungai yang cukup besar di kawasan hutan KPH Kuningan adalah Sungai Cisangarung, Cijalengkok, Citaal, Cisande. Sedangkan mata air tersebar di seluruh wilayah, terutama pada kawasan pegunungan dan perbukitan dengan total debit sekitar 8.000 liter per detik. 627 mata air yang terdapat di kawasan hutan KPH Kuningan 92 titik memiliki nilai ekonomis, 68 titik dieksploitasi oleh masyarakat untuk kepentingan air bersih dan MCK, 467 titik belum dapat dimanfaatkan secara ekonomis karena debit airnya relatif kecil.
Ekosistem
Kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani memiliki ekosistem yang beragam, dengan tipe hutan dataran rendah (2-1000 mdpl) Hutan Hujan pegunungan (1000-2400 mdpl) dan hutan sub alpin (>2400 mdpl). Melihat kondisi luasan wilayah dan letak Geografis kawasan hutan KPH Kuningan sudah dapat dipastikan bahwa kawasan hutan KPH Kuningan merupakan daerah penyangga bagi wilayah lain yang berbatasan dengan diantaranya Kab dan Kota Cirebon, sebagian Indramayu, Brebes Jawa Tengah dan Kab. Ciamis.
Ekosistem yang ada dilapangan, ternyata dipengaruhi oleh pegunungan / pemanfaatan lahan serta diperuntukan. Untuk ekosistem yamg alami dan kelihatannya masih seimbang adalah ekosistem yang ada di kawasan hutan lindung karena habitat belum terganggu daan sebagian besar banyak belum terjamah oleh manusia. Berikut adalah jenis – jenis yang ada di lapangan :
· Ekosistem Hutan (Hutan Lindung, Hutan Produksi)
Ekosistem Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan yang berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan yang satu dan lainnya tidak dapat dipsahkan.
· Ekosistem Ladang
Ekosistem Ladang adalah hubungan komponen biotic dan abiotic yang berupa kering atau areal tanah tadah hujan yang didalamnya saling berinteraksi
· Ekosistem Sawah
Ekosistem Sawah adalah hubungan komponen biotic dan abiotic yang hidup atau berinterksi di areal sawah / persawahan yang satu dan lainnya tidak dapat dipisahkan
· Ekosistem Sungai
Ekosistem Sungai adalah hubungan komponen biotic dan abiotic yang berupa aliran air di permukaan tanah yang di sebut aliran sungai.
Flora
Hutan di kawasan hutan KPH Kuningan memiliki berbagai jenis vegetasi yang diantaranya adalah Kantong semar (Nepenthaceae) dan Dadap Jingga (Erythrina sp). Jenis-jenis anggrek yang mendominasi adalah jenis anggrek Vanda tricolor dan Eria sp, sedangkan jenis anggrek terestial yang mendominasi adalah Calenthe triplicata, Macodes sp, Cymbidium sp dan Malaxis iridifolia. Secara umum vegetasi di kawasan hutan KPH Kuningan yang masih baik didominasi keluarga Huru (Litsea spp), Mareme (Glochidion sp), Mara (Macaranga tanarius), Saninten (Castonopsis argentea.), Sereh Gunung(Cymbophogon sp), Hedychium sp. Ariasema sp. Dan Edelweis (Anaphalissp)(LIPI, 2001).
Fauna
Satwa langka di kawasan hutan KPH Kuningan, antara lain: Macan Kumbang (Panthera pardus), Surili (Presbytis comata), dan Elang Jawa (Spyzaetus bartelsi). Jenis satwa lainnya adalah Lutung (Presbytis cristata), Kijang (Muntiacus muntjak), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Ular Sanca (Phyton molurus), Meong Congkok (Felis bengalensis), Elang Hitam (Ictinaetus malayensis), Ekek Kiling (Cissa thalassina), Sepah Madu (Perictorus miniatus), Walik (Ptilinopuscinctus), Anis (Zoothera citrina) dan berbagai jenis burung berkicau lainnya. Terdapat ± 20 jenis burung sebaran terbatas yang di dalamnya terdapat 2 jenis burung terancam punah yaitu Cica Matahari (Crocias albonotatus) dan Poksai Kuda (Garrulax rufrifons) serta 2 jenis burung status rentan yaitu Ciung Mungkal Jawa (Cochoa azurea) dan Celepuk Jawa (Otus angelinae)
Sosial Ekonomi Masyarakat
Penduduk yang berada di sekitar kawasan hutan KPH Kuningan Tahun 2007 Menurut Hasil Suseda sebanyak 1.102.354 orang dengan Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 1,17% pertahun. Penduduk laki-laki sebanyak 549.118 orang dan penduduk perempuan sebanyak 553.236 orang dengan sex ratio sebesar 99,3 % artinya jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Diperkirakan hampir 25% penduduk Kuningan bersifat comuter, mereka banyak yang bermigrasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan sebagainya.
Penduduk di sekitar kawasan hutan KPH Kuningan umumnya adalah suku Sunda yang menggunakan Bahasa Sunda dalam kesehariannya, namun untuk daerah perbatasan dengan Jawa tengah mereka juga ada yang bertutur dengan menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Sunda yang digunakan di Kuningan memiliki ciri tersendiri (bahasa wewengkon) dibandingkan dengan bahasa Sunda yang digunakan di daerah Priangan barat.
Sebagain besar penduduk di sekitar kawasan hutan KPH Kuningan bermatapencaharian sebagai petani (petani penggarap dan buruh tani), dan lainnya bekerja sebagai Pedagang, Pegawai negeri Sipil, TNI, Polisi, Wiraswasta dan sebagainya.


HAMA PENYAKIT TANAMAN KEHUTANAN

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida (carbon dioxide sink), habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestari tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer Bumi yang paling penting (Wikipedia; 2010)
Hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas. Pohon sendiri adalah tumbuhan cukup tinggi dengan masa hidup bertahun-tahun. Jadi, tentu berbeda dengan sayur-sayuran atau padi-padian yang hidup semusim saja. Pohon juga berbeda karena secara mencolok memiliki sebatang pokok tegak berkayu yang cukup panjang dan bentuk tajuk (mahkota daun) yang jelas.
Hutan sebagai suatu ekosistem tidak hanya menyimpan sumberdaya alam berupa kayu, tetapi masih banyak potensi non kayu yang dapat diambil manfaatnya oleh masyarakat melalui budidaya tanaman pertanian pada lahan hutan. Sebagai fungsi ekosistem hutan sangat berperan dalam berbagai hal seperti penyedia sumber air, penghasil oksigen, tempat hidup berjuta flora dan fauna, dan peran penyeimbang lingkungan, serta mencegah timbulnya pemanasan global. Sebagai fungsi penyedia air bagi kehidupan hutan merupakan salah satu kawasan yang sangat penting, hal ini dikarenakan hutan adalah tempat bertumbuhnya berjuta tanaman
Perlindungan hutan meliputi pengamanan hutan, pengamanan tumbuhan dan satwa liar, pengelolaan tenaga dan sarana perlindungan hutan dan penyidikan. Perlindungan Hutan diselenggarakan dengan tujuan untuk menjaga hutan, kawasan hutan dan lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi dan fungsi produksi dapat tercapai secara optimal dan lestari. Perlindungan hutan ini merupakan usaha untuk :
a. Mencegah dan membatasi kerusakan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan yang disebabkan oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, bencana alam, hama serta penyakit.
b. Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara, masyarakat dan perorangan atas hutan, kawasan hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang berhubungan dengan pengelolaan hutan.
Serangan hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan hama dan penyakit berdampak pada prokduktifitas dan kualitas standing stock yang ada. Diantaranya adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan.
Dengan demikian perlu adanya pembahasan mengenai hama dan penyakit tanaman kehutanan yang kemudian dapat diambil solusi pengendaliannya. Juga sebagai salah satu usaha untuk pengembangan peningkatan produktifitas hutan yang diharapkan memiliki nilai ekonomis yang tinggi dengan lingkungan yang tetap lestari dan berkesinambungan.

I.2 Tujuan
1. Ingin mengetahui jenis hama dan penyakit tanaman Kehutanan.
2. Ingin mengetahui gejala serangan hama dan penyakit tanaman kehutanan.
3. Ingin mengetahui cara penanggulangan hama dan penyakit tanaman kehutanan.

I.3 Rumusan Masalah
1. Apa saja jenis hama dan penyakit tanaman Kehutanan?
2. Bagaimana gejala serangan hama dan penyakit tanaman kehutanan?
3. Bagaimana cara penanggulangan hama dan penyakit tanaman kehutanan?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Hama dan Penyakit Pada Tumbuhan
Tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Kadang tumbuhan mengalami gangguan oleh binatang atau organisme kecil (virus, bakteri, atau jamur). Hewan dapat disebut hama karena mereka mengganggu tumbuhan dengan memakannya. Belalang, kumbang, ulat, wereng, tikus, walang sangit merupakan beberapa contoh binatang yang sering menjadi hama tanaman.
Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan. Oleh karena itu, tumbuhan yang terserang penyakit, umumnya, bagian tubuhnya utuh. Akan tetapi, aktivitas hidupnya terganggu dan dapat menyebabkan kematian. Untuk membasmi hama dan penyakit, sering kali manusia menggunakan oat – obatan anti hama. Pestisida yang digunakan untuk membasmi serangga disebut insektisida. Adapun pestisida yang digunakan untuk membasmi jamur disebut fungsida.
Pembasmi hama dan penyakit menggunakan pestisida dan obat harus secara hati – hati dan tepat guna. Pengunaan pertisida yang berlebihan dan tidak tepat justru dapat menimbulkan bahaya yang lebih besat. Hal itu disebabkan karena pestisida dapat menimbulkan kekebalan pada hama dan penyakit. Oleh karena itu pengguna obat – obatan anti hama dan penyakit hendaknya diusahakan seminimal dan sebijak mungkin.
Secara alamiah, sesungguhnya hama mempunyai musuh yang dapat mengendalikannya. Namun, karena ulah manusia, sering kali musuh alamiah hama hilang. Akibat hama tersebut merajalela. Salah satu contoh kasus yang sering terjadi adalah hama tikus. Sesungguhnya, secara ilmiah, tikus mempunyai musuh yang memamngsanya. Musuh alami tikus ini dapat mengendalikan jumlah populasi tikus. Musuhnya tikus itu ialah Ular, Burung hantu, dan elang. Sayangnya binatang – binatang tersebut ditangkapi oleh manusia sehingga tikus tidak lagi memiliki pemangsa alami. Akibatnya, jumlah tikus menjadi sangat banyak dan menjadi hama pertanian.

II.2 Hama
Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau, dan ulat.
1. Tikus
Tikus merupakan hama yang sering kali membuat pusing para petani. Hal ini diesbabkan tikus sulit dikendalikan karena memiliki daya adaptasi, mobilitas, dan kemampuan untuk berkembang biak yang sangat tinggi. Masa reproduksi yang relative singkat menyebabkan tikus cepat bertambah banyak. Potensi perkembangbiakan tikus sangat tergantung dari makanan yang tersedia. Tikus sangat aktif di malam hari.
Tikus menyerang berbagai tumbuhan. Bagian tumbuhan yang disarang tidak hanya biji – bijian tetapi juga batang tumbuhan muda. Yang membuat para tikus kuat memakan biji – bijian sehingga merugikan para petani adalah gigi serinya yang kuat dan tajam, sehingga tikus mudah untuk memakan biji – bijian. Tikus membuat lubang – lubang pada pematang sawah dan sering berlindung di semak – semak. Apabila keadaan sawah itu rusak maka berarti sawah tersebut diserang tikus.
Untuk mengatasi serangan hama tikus, dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut :
a. Membongkar dan menutup lubang tempat bersembunyi para tikus dan menangkap tikusnya.
b. Menggunakan musuh alami tikus, yaitu ular.
c. Menanam tanaman secara bersamaan agar dapat menuai dalam waktu yang bersamaan pula sehingga tidak ada kesempatan bigi tikus untuk mendapatkan makanan setelah tanaman dipanen.
d. Menggunakan rodentisida (pembasmi tikus) atau dengan memasang umpan beracun, yaitu irisan ubi jalar atau singkong yang telah direndam sebelumnya dengan fosforus. Peracunan ini sebaiknya dilakukna sebelum tanaman padi berbunga dan berbiji. Selain itu penggunaan racun harus hati – hati karena juga berbahaya bagi hewan ternak dan manusia.

2. Wereng
Wereng adalah sejenis kepik yang menyebabkan daun dan batang tumbuhan berlubang – lubang, kemudian kering, dan pada akhirnya mati. Hama wereng ini dapat dikendalikan dengan cara – cara sebagai betikut :
a. Pengaturan pola tanam, yaitu dengan melakukan penanaman secara serentak maupun dengan pergiliran tanaman. Pergiliran tanaman dilakukan untuk memutus siklus hidup wereng dengan cara menanam tanaman palawija atau tanah dibiarkan selama 1 – 2 bulan.
b. Pengandalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami wereng, misalnya laba – laba predator Lycosa Pseudoannulata, kepik Microvelia douglasi dan Cyrtorhinuss lividipenis, kumbang Paederuss fuscipes, Ophinea nigrofasciata, dan Synarmonia octomaculata.
c. Pengandalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida, dilakukan apabila cara lain tidak mungkin untuk dilakukan. Penggunaan insektisida diusahakan sedemikan rupa sehingga efektif, efisien, dan aman bagi lingkungan.

3. Walang Sangit
Walang sangit (Leptocorisa acuta) merupakansalah satu hama yang juga meresahkan petani. Hewan ini jika diganggu, akan meloncat dan terbang sambil mengeluarkan bau. Serangga ini berwarnahijau kemerah- merahan.
Walang sangit menghisab butir – butir padi yang masih cair. Biji yang sudah diisap akan menjadi hampa, agak hampa, atau liat. Kulit biji iu akan berwarna kehitam – hitaman. Faktor – faktor yang mendukung yang mendukung populasi walang sangit antara lain sebagai berikut.
a. Sawah sangat dekat dengat perhutanan.
b. Populasi gulma di sekitar sawah cukup tinggi.
c. Penanaman tidak serentak
Pengendalian terhadap hama walang sangit dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Menanam tanaman secara serentak.
b. Membersihkan sawah dari segala macam rumput yang tumbuh di sekitar sawah agar tidak menjadi tempat berkembang biak bagi walang sangit.
c. Menangkap walang sangit pada pagi hari dengan menggunakan jala penangkap.
d. Penangkapan menggunakan unmpan bangkai kodok, ketam sawah, atau dengan alga.
e. Melakukan pengendalian hayati dengan cara melepaskan predator alami beruba laba – laba dan menanam jamur yang dapat menginfeksi walang sangit.
f. Melakukan pengendalian kimia, yaitu dengan menggunakan insektisida.
Walang sangit muda (nimfa) lebih aktif dibandingkan dewasanya (imago), tetapi hewan dewasa dapat merusak lebih hebat karenya hidupnya lebih lama. Walang sangit dewasa juga dapat memakan biji – biji yang sudah mengeras, yaitu dengan mengeluarkan enzim yang dapat mencerna karbohidrat.
4. Ulat
Kupu – kupu merupakan serangga yang memiliki sayap yang indah dan benareka ragam. Kupu – kupu meletakkan telurnya dibawah daun dan jika menetas menjadi larva. Kita bisa sebut larva kupu – kupu sebagai ulat. Pada fase ini, ulat aktif memakan dedaunan bahkan pangkal batang, terutama pada malam hari. Daun yang dimakan oleh ulat hanya tersisa rangka atau tulang daunya saja.
Upaya pemberantasan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
• Membuang telur – telur kupu – kupu yang melekat pada bagian bawah daun.
• Menggenangi tempat persemaian dengan air dalam jumlah banyak sehingga ulat akan bergerak ke atas sehingga mudah untuk dikumpulkan dan dibasmi.
• Apabila kedua cara diatas tidak berhasil, maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan pertisida.
5. Tungau
Tungau (kutu kecil) bisaanya terdapat di sebuah bawah daun untuk mengisap daun tersebut. Hama ini banyak terdapat pada musim kemarau. Pada daun yang terserang kutu akan timbul bercak – bercak kecil kemudian daun akan menjadi kuning lalu gugur. Hama ini dapat diatasi dengan cara mengumpulkan daun – daun yang terserang hama pada suatu tempat dan dibakar.
II.3 Penyakit Tumbuhan
Jenis – jenis penyakit yang menyerang tumbuhan sangat banyak jumlahnya. Penyakit yang menyerang tumbuhan banyak disebabkan oleh mikroorganisme, misalnya jamur, bakteri, dan alga. Penyakit tumbuhan juga dapat disebabkan oleh virus.
1. Jamur
Jamur adalah salah satu organisme penyebab penyakit yang menyerang hampir semua bagian tumbuhan, mulai dari akar, batang, ranting, daun, bunga, hingga buahnya. Penyebaran jenis penyakit ini dapat disebabkan oleh angin, air, serangga, atau sentuhan tangan.
Penyakit ini menyebabkan bagian tumbuhan yang terserang, misalnya buah, akan menjadi busuk. Jika menyerang bagian ranting dan permukaan daun, akan menyebabkan bercak – bercak kecokelatan. Dari bercak – bercak tersebut akan keluar jamur berwarna putih atau oranye yang dapat meluas ke seluruh permukaan ranting atau daun sehingga pada akhirnya kering dan rontok.
Jika jamur ini mengganggu proses fotosintesis karena menutupi permukaan daun. Batang yang terserang umumnya akan membusuk, mula – mula dari arah kulit kemudian menjalar ke dalam, dan kemudian membusukkan jaringan kayu. Jaringan yang terserang akan mengeluarkan getah atau cairan. Jika kondisi ini dibiarkan, jaringan kayu akan membusuk, kemudian seluruh dahan yang ada di atasnya akan layu dan mati.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah sebagai berikut.
a) Penyakit pada padi.
Penyakit pada ruas batang dan butir padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzea. Ruas – ruas batang menjadi mudah patah dan tanaman padi akhirnya mati. Selain itu, terdapat pula penyakit yang menyebabkan daun pedi menguning. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Magnaporthegrisea.
b) Penyakit embun tepung.
Penyakit ini disebabkan oleh jamur Peronospora parasitica. Jamur ini kadang – kadang menyerang biji yang sedang berkecambah sehingga biji menjadi keropos dan akhirnya mati. Jamur ini kadang – kadang menyerang daun pertama pada kecambah sehingga tumbuhan menjadi kerdil. Tumbuhan kerdil dapat tumbuh terus tapi pada daun – daunnya terdapat kercak – bercak hitam.
Untuk memberantas jamur ini dilakukan pengendalian secara kimia, yaitu dengan pemberian fungsida pada tanaman yang terserang jamur.

2. Bakteri
Bakteri dapat membusukkan daun, batang, dan akar tumbuhan. Bagian tumbuh tumbuhan yang diserang bakteri akan mengeluarkan lendir keruh, baunya sangat menusuk, dan lengket jika disentuh. Setelah membusuk, lama – kelamaan tumbuhan akan mati. Tumbuhan yang diserang bakteri dapat diatasi dengan menggunakan bakterisida.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah penyakit yang menyerang pembuluh tapis batang jeruk (citrus vein phloem degeneration atau CVPD). CVPD disebabken oleh bakteri Serratia marcescens. Gejalanya adalah kuncup daun menjadi kecil dan berwarna kuning, buah menjadi kuning, sehingga lama – kelamaan akan mati. Penyakit CVPD yang belum parang dapat disembuhkan dengan terramycin, yang merupakan sejenis antibiotik.

3. Virus
Selain bakteri dan jamur, dalam kondisi yang sehat, tumbuhan dapat terserang oleh virus. Penyakit yang disebabkan oleh virus cukup berbahaya karena dapat menular dan menyebar ke seluruh tumbuhan dengan cepat. Tumbuhan yang sudah terlanjur diserang sulit untuk disembuhkan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh virus antara lain penyakit daun tembakau yang berbercak – bercak putis. Penyakit ini disebabkan oleh virus TMV (tabacco mosaic virus) yang menyerang permukaan atas daun tembakau. Virus juga dapat menyerang jeruk. Penularan melalui perantara serangga.

4. Alga (Ganggang)
Keberadaan alga juga perlu diaspadai karena dapat menyebabkan bercak karat merah pada daun tumbuhan. Tumbuhan yang biasanya diserang antara lain jeruk, jambu biji, dan rambutan. Bagian tumbuhan yang diserang oleh alga biasanya bagian daun, ditandai adanya bercak berwarna kelabu kehijauan pada daun, kemudian pada permukaannya tumbuh rambut berwarnya cokelat kemerahan. Meskipun ukurannya kecil, bercak yang timbul sangat banyak sehingga cukup merugikan
Langkah – langkah yang harus dilakukan agar tumbuhan tidak tersenang penyakit antara lain sebagai berikut.
a) Usahakan tumbuhan selalu dalam kondisi prima atau sehat dengan cara tercukupi segala kebutuhan zat haranya.
b) Jangan membiarkan tumbuhan terlalu rimbun, pangkaslah sehingga selaruh bagian tumbuhan mendapatkan sinar matahari yang cukup.
c) Jangan biarkan tumbuhan terserang kutu, tungau, atau hewan yang lain yang serung membawa bakteri atau jamur.
d) Usahakan lingkungan selalu bersih.
e) Perhatikan tumbuhan sesering mungkun sehingga penyakit dapat terdeteksi sedini mungkin.
f) Jika terdapat gejala – gejala yang tampak, pangkaslah bagian tumbuhan (daun, buah, ranting) yang terserang, kemudian dibakar agar tidak menular ke bagian atau tumbuhan yang lainnya.
g) Penggunaan pertisida sebagai alternative terakhir untuk pengobatan hama dan penyakit pada tumbuhan.
“Penggunaan Pestisida untuk Memberantas Hama dan Penyakit”
Penggunaan pestisida sintetis membutuhkan kecermatan, baik mengenai pilihan pestisida yang aman maupun petunjuk pemakaiannya. Hasil pemantauan rutin dapat digunakan untuk mengetahui Janis hama dan penyakit yang menyerang, dan menentukan jenis pestisida yang sesuai sasaran. Pemantauan juga bermanfaat agar penyemprotan tidak terlambat dengan menggunakan dosis dan waktu yang tepat sehingga pengendalian hama dan penyakit dapat berhasil.
Pengendalian hama dan penyakit dengan pestisida harus memperhatikan jenis hama dan penyakit yang ada, populasi, serta tahap pengembangan hama tersebut. Penggunaan pestisida dapat dilakukan berdasarkan pertimbangan hal -– hal berikut.
a) Pestisida biologi disesuaikan dengan jenis hama yang menyerang.
b) Pestisida harus selektif, yaitu untuk hama atau penyakit yang menyerang jenis tanaman tertentu.
c) Formulasi pertisida harus sesuai. Misalnya untuk hama yang masuk ke dalam bunga kurang cocok jika digunakan penyemprotan, namun lebig efektif jika berbentuk kabut sehingga lebih mudak untuk masuk ke dalam bunga.
d) Pestisida sistemik (masuk ke jaringan tumbuhan) atau kontak bersentuhan dengan hama, disesuaikan dengan tahap perkembangan hama. Pada fase dewasa, kutu putih mungkin sulit dikendalikan dengan perstisida kontak karena tubuhnya memiliki lapisan luar yang dapat melindunginya dari semprotan langsung. Pestisida sistemik akan lebih efektif karena larva yang baru menetas dan makan daun akan meti karena bahan aktif yanga ada dalam tumbuhan akan meracuni hama tersebut.

BAB III
PEMBAHASAN

III.1 Hama Penyakit Tanaman Kehutanan

1. Hama Ulat Jati (Hyblaea puera & Pyrausta machaeralis)
Hama ini menyerang pada awal musim penghujan, yaitu sekitar bulan Nopember – Januari. Daun-daun yang terserang berlubang-lubang dimakan ulat. Bila ulat tidak banyak cukup diambil dan dimatikan. Bila tingkat serangan sudah tinggi, maka perlu dilakukan pengendalian dengan cara penyemprotan menggunakan insektisida.
2. Hama Uret (Phyllophaga sp)
Hama ini biasanya menyerang pada bulan Pebruari – April. Uret merupakan larva dari kumbang. Larva ini aktif memakan akar tanaman baik tanaman kehutanan (tanaman pokok dan sela) maupun tanaman tumpangsari (padi, palawija, dll) terutama yang masih muda, sehingga tanaman yang terserang tiba-tiba layu, berhenti tumbuh kemudian mati. Jika media dibongkar akar tanaman terputus/rusak dan dapat dijumpai hama uret.
Kerusakan dan kerugian paling besar akibat serangan hama uret terutama terjadi pada tanaman umur 1-2 bulan di lapangan, tanaman menjadi mati. Serangan hama uret di lapangan berfluktuasi dari tahun ke tahun, umumnya bilamana kasus-kasus serangan hama uret tinggi pada suatu tahun, maka pada tahun berikutnya kasus-kasus kerusakan/serangan menurun.
3. Hama Tungau Merah (Akarina)
Hama ini biasanya menyerang pada bulan Juni – Agustus. Gejala yang timbul berupa daun berwarna kuning pucat, pertumbuhan bibit terhambat. Hal ini terjadi diakibatkan oleh cairan dari tanaman/terutama pada daun dihisap oleh tungau. Bila diamati secara teliti, di bawah permukaan daun ada tungau berwarna merah cukup banyak (ukuran ± 0,5 mm) dan terdapat benang-benang halus seperti sarang laba-laba. Pengendalian hama tungau dapat dilakukan dengan menggunakan akarisida.
4. Hama kutu putih/kutu lilin
Hama ini biasa menyerang setiap saat. Bagian tanaman yang diserang adalah pucuk (jaringan meristematis). Pucuk daun yang terserang menjadi keriting sehingga tumbuh abnormal dan terdapat kutu berwarna putih berukuran kecil. Langkah awal pengendalian berupa pemisahan bibit yang sakit dengan yang sehat karena bisa menular. Bila batang sudah mengkayu, batang dapat dipotong 0,5 – 1 cm di atas permukaan media; pucuk yang sakit dibuang/dimusnahkan. Jika serangan sudah parah dan dalam skala yang luas maka dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan akarisida.
5. Hama Lalat Putih
Hama lalat putih merupakan serangga kecil bertubuh lunak. Lalat putih ini bukan lalat sejati, tetapi masuk dalam Ordo Homoptera. Hama ini berkembang sangat cepat secara eksponensial. Lalat putih betina dapat menghasilkan 150 – 300 telur sepanjang hidupnya. Waktu yang dibutuhkan dari tingkat telur sampai dengan dewasa siap bertelur hanya sekitar 16 hari. Lalat putih dapat menyebabkan luka yang serius pada tanaman dengan mencucuk mengisap cairan tanaman sehingga menyebabkan layu, kerdil, atau bahkan mati. Lalat putih dewasa dapat juga mentransmisikan beberapa virus dari tanaman sakit ke tanaman sehat.
Lalat putih sering sangat sulit dikendalikan. Lokasi hama yang berada di permukaan bawah daun membuatnya sulit bagi insektisida untuk mencapai posisi hama. Hama lalat putih juga dengan cepat dapat mengembangkan resistensi ke insektisida yang digunakan untuk melawan mereka. Suatu jenis insektisida yang efektif untuk lalat putih pada suatu kasus kerusakan pada suatu waktu, dapat tidak efektif untuk aplikasi di lokasi dan waktu yang berbeda.
Tahap telur dan pupa lebih tahan terhadap insektisida dibandingkan tahapan dewasa dan nimfa. Konsekuensinya eradikasi (pengendalian) populasi lalat putih biasanya memerlukan 4 – 5 kali penyemprotan dengan interval penyemprotan 5 – 7 hari. Pengendalian biologi dapat diterapkan untuk melawan lalat putih. Lalat putih memiliki musuh alami sejumlah predator dan parasitoid. Kerusakan parah pada bibit di persemaian (JPP) terutama terjadi pada semai ukuran < 10 cm, terparah terjadi pada semai < 5 cm.
6. Penyakit Layu – Busuk Semai
Serangan penyakit pada persemaian terjadi pada kondisi lingkungan yang lembab, biasanya pada musim hujan. Berdasarkan karakteristik serangannya, penyakit yang muncul pada persemaian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
serangan penyakit dipicu oleh kondisi lingkungan yang lembab.
Gejala yang timbul biasanya bibit busuk. Penanganan secara mekanis dapat dilakukan dengan penjarangan bibit, wiwil daun, serta pemindahan bibit ke open area, dengan tujuan untuk mengurangi kelembaban.
serangan penyakit dipicu oleh hujan malam hari/dini hari pada awal musim hujan (penyakit embun upas).
Gejala yang timbul berupa daun layu seperti terkena air panas. Serangan penyakit ini umumnya muncul pada saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim penghujan, saat hujan pertama turun yang terjadi pada malam hari atau dini hari pada awal musim hujan. Serangan penyakit terutama pada bibit yang masih muda, jumlah bibit yang terserang relatif banyak, cepat menular melalui sentuhan atau kontak daun, dan bersifat mematikan.
7. Hama rayap
Serangan dapat terjadi pada tanaman jati muda pada musim hujan yang tidak teratur dan puncak kemarau panjang. Pada kasus serangan di puncak kemarau disebabkan rendahnya kelembaban di dalam koloni rayap sehingga rayap menyerang tanaman jati muda. Prinsip pengendaliannya dengan mencegah kontak rayap dengan batang/perakaran tanaman
8. Hama penggerek batang/oleng-oleng (Duomitus ceramicus)
Siklus Hidup
Duomitus ceramicus merupakan sejenis ngengat, telurnya menetas antara bulan Maret – April, aktif pada malam hari. Setelah kawin ngengat betina bertelur pada malam hari dan diletakkan pada celah kulit batang. Telur berwarna putih kekuningan atau kuning gelap, bentuk silinder, panjang 0,75 cm. Telur diletakkan berkelompok pada bekas patahan cabang atau luka-luka di kulit batang. Stadia telur ± 3 minggu.
Larva menetas pada bulan Mei, hidup dalam kulit pohon, selanjutnya menggerek kulit batang menuju kambium dan kayu muda, memakan jaringan kayu muda. Larva pada tingkat yang lebih tua membuat liang gerek yang panjang, terutama bila pohon jati kurang subur. Pada tempat gerekan terjadi pembentukan kallus (gembol). Larva menggerek batang dengan diameter 1 – 1,5 cm, panjang 20 – 30 cm dan bersudut 90 °. Kotoran larva dari gerekan kayu dikeluarkan dari liang gerek. Fase larva sangat lama antara April – September.
Selanjutnya larva masuk ke stadium pupa, tidak aktif, posisinya mendekati bagian luar liang gerek. Fase pupa berlangsung antara September – Pebruari. Seluruh siklus hidupnya, dari stadia telur sampai menjadi ngengat memerlukan waktu ± 1 tahun.
9. Hama penggerek pucuk jati
Serangan ulat penggerek pucuk jati (shoot borer) menyerang tanaman jati muda. Gejala awal berupa pucuk apikal jati muda tiba-tiba menjadi layu, kemudian menjadi kering. Panjang pucuk yang mati antara 30 – 50 cm.
Pengamatan pada tanaman yang mati diketahui bahwa terdapat lubang gerekan kecil (± 2 mm) di bawah bagian yang layu/kering. Ulat penggerek pucuk berwarna kemerahan dengan kepala berwarna hitam; dibelakang kepala terdapat cincin kuning keemasan.
Akibat putusnya titik tumbuh apikal maka akan menurunkan kualitas batang utama. Ujung batang utama yang mati akan keluar tunas-tunas air/cabang-cabang baru.
10. Hama Kutu Putih (Pseudococcus/mealybug)
Kutu putih/kutu sisik (famili Coccidae, ordo Homoptera) yang pernah dilaporkan menyerang tanaman jati antara lain : Pseudococcus hispidus dan Pseudococcus (crotonis) tayabanus.
Kutu ini mengisap cairan tanaman tumbuhan inang. Waktu serangan terjadi pada musim kering (kemarau). Seluruh tubuhnya dilindungi oleh lilin/tawas dan dikelilingi dengan karangan benang-benang tawas berwarna putih; pada bagian belakang didapati benang-benang tawas yang lebih panjang. Telur-telurnya diletakkan menumpuk yang tertutup oleh tawas.
Kerusakan pada tanaman jati muda dapat terjadi bilamana populasi kutu tinggi. Kerusakan yang terjadi antara lain : daun mengeriting, pucuk apikal tumbuh tidak normal (bengkok dan jarak antar ruas daun memendek).
Gangguan kutu ini akan menghilang pada musim penghujan. Namun demikian kerusakan tanaman muda berupa bentuk-bentuk cacat tetap ada. Hal tersebut tentunya sangat merugikan regenerasi tanaman yang berkualitas.
Kutu-kutu ini memiliki hubungan simbiosis dengan semut (Formicidae), yaitu semut gramang (Plagiolepis [Anaplolepis] longipes) dan semut hitam (Dolichoderus bituberculatus) yang memindahkan kutu dari satu tanaman ke tanaman lain.
11. Hama Kupu Putih (Peloncat Flatid Putih)
Kasus serangan hama kupu putih dalam skala luas pernah terjadi pada tanaman jati muda di KPH Banyuwangi Selatan pada musim kemarau tahun 2006. Serangga ini hinggap menempel di batang muda dan permukaan daun bagian bawah. Jumlah individu serangga tiap pohon dapat mencapai puluhan sampai ratusan individu.
Hasil identifikasi serangga, diketahui bahwa serangga yang menyerang tanaman jati muda ini adalah dari kelompok peloncat tumbuhan (planthopper) flatid warna putih (famili Flatidae, ordo Homoptera/Hemiptera). Dari kenampakan serangga maka kupu putih yang menyerang jati ini sangat mirip dengan spesies flatid putih Anormenis chloris. Jenis-jenis serangga flatid jarang dilaporkan menyebabkan kerusakan ekonomis pada tanaman budidaya.
Nilai kehadiran serangga kupu putih (flatid putih) ini menjadi penting karena waktu serangan terjadi pada musim kemarau yang panjang. Tanaman jati yang telah mengurangi tekanan lingkungan dengan menggugurkan daun semakin meningkat tekanannya akibat cairan tubuhnya dihisap oleh serangga flatid putih. Dengan demikian serangan serangga flatid putih ini dapat meningkatkan resiko mati pucuk jati muda selama musim kemarau.
12. Hama Kumbang Bubuk Basah (Xyleborus destruens Bldf.)
Xyleborus destruens atau kumbang bubuk basah atau kumbang ambrosia menyebabkan kerusakan pada batang jati. Serangan kumbang ini pada daerah-daerah dengan kelembaban tinggi. Pada daerah-daerah dengan curah hujan lebih dari 2000 mm per tahun serangan hama ini dapat ditemukan sepanjang tahun.
Gejala serangan yang mudah dilihat yaitu kulit batang berwarna coklat kehitaman, disebabkan adanya lendir yang bercampur kotoran X. destruens. Bila lendir dan campuran kotoran sudah mengering warnanya menjadi kehitam-hitaman.
Serangan hama ini tidak mematikan pohon atau mengganggu pertumbuhan tetapi akibat saluran-saluran kecil melingkar-melingkar di dalam batang jati maka menurunkan kualitas kayu.
13. Penyakit Layu Bakteri
Penyakit ini dapat menyerang tanaman jati di persemaian dan juga jati muda di lapangan. Di lapangan diketahui pertama kali menyerang tanaman jati pada tahun 1962 di Pati. Di persemaian, diketahui bahwa persemaian Kucur di Ngawi (1996, 1998) dan persemaian Pongpoklandak, Cianjur (1999) pernah terserang.
Kasus kerusakan jati muda akibat penyakit layu bakteri di lapangan akhir-akhir ini mulai banyak yang muncul, seperti di Haur Geulis, Indramayu (2005), Jember (2006), Pati Utara (2006 – 2008). Bahkan kasus serangan penyakit layu bakteri di Pati Utara sudah sangat luas, menyerang tanaman jati muda s.d. umur 5 tahun, dengan demikian memerlukan penanganan yang serius.
14. Hama Inger-Inger (Neotermes tectonae)
Neotermes tectonae merupakan suatu golongan rayap tingkat rendah. Koloni inger-inger tidak begitu banyak, hanya beberapa ratus sampai beberapa ribu individu.
Gejala kerusakan dapat dijumpai berupa pembengkakan pada batang, kebanyakan pada ketinggian antara 5 – 10 m, namun juga ada pada 2 m atau sampai 20 m. Jumlah pembengkakan dalam satu batang bervariasi, mulai satu sampai enam titik lokasi pembengkakan.
Waktu mulai hama menyerang sampai terlihat gejala memerlukan waktu 3-4 tahun, bahkan sampai 7 tahun.
Kasus serangan hama inger-inger di lapangan umumnya dijumpai terutama pada lokasi-lokasi tegakan yang memiliki kelembaban iklim mikro yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh kerapatan tegakan yang terlalu tinggi. Penyebabnya adalah tidak dilakukannya ataupun terlambatnya kegiatan penjarangan, padahal kegiatan penjarangan merupakan bagian dari upaya silvikultur untuk menjaga kesehatan tegakan.
Akibat serangan inger-inger ini adalah pada bagian yang diserang kayunya sudah tidak bernilai sebagai kayu pertukangan dan harus dikeluarkan dari hitungan perolehan massa kayu bahan pertukangan.

III.2 Upaya Pencegahan Hama Penyakit Tanaman
A. Monitoring hama dan penyakit
Monitoring hama dan penyakit sebagai sistem pencegahan serangan hama dan penyakit merupakan tindakan deteksi dini dan preventif untuk mengetahui secara cepat hama dan penyakit yang menyerang sehingga dengan segera dapat dilakukan tindakan pemberantasan. Monitoring secara prinsipnya dilakukan pada setiap elemen kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan terutama diarahkan pada elemen kegiatan dimana diindikasikan terkait erat dengan adanya serangan dan pemberantasan dan atau pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Metode identifikasi hama dan penyakit menggunakan metode yang akan disampaikan pada berikutnya. Secara detail monitoring mencatat lokasi dan jumlah individu yang terserang, gejala dan tanda serta perkiraan kerugian dengan menggunakan dasar BSR atau nilai yang ditaksir serta waktu serangan. Adapun format Laporan Monitoring Hama dan Penyakit seperti pada lampiran buku ini.
Monitoring hama dan penyakit dilakukan pada kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan sebagai berikut ;
1. Kegiatan Persemaian
Persemaian merupakan suatu areal atau tempat yang digunakan untuk memproses benih atau bahan lain dari tanaman menjadi semai atau bibit siap tanam. Keberhasilan pembuatan persemaian menjadi dasar bagian keberhasilan tahapan kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan selanjutnya. Secara umum beberapa tahapan kegiatan persemaian antara lain :
 Perencanaan persemaian meliputi kegiatan pemilihan lokasi persemaian, penentuan luas persemaian dan kebutuhan benih.
 Persiapan lapangan meliputi pembuatan rencana tapak, pembuatan dan pemasangan pal batas, pembersihan lapangan, pengolahan tanah dan penataan lapangan, pembuatan bedengan, pembuatan naungan, penyiapan media dan penanganan benih.
 Penyemaian meliputi kegiatan perlakuan benih, pencapuran media tabur dan media sapih, penaburan dan penyapihan.
 Pemeliharaan meliputi kegiatan penyiraman, pembersihan/penyiangan rumput, pemupukan, penyulaman dan seleksi.
Monitoring diarahkan dengan sasaran obyek semai mulai berkecambah sampai dengan bibit siap kirim ke lapangan. Dengan latar belakang bahwa semai mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap serangan hama dan penyakit maka monitoring dilaporkan setiap minggu oleh mandor persemaian.
Metode identifikasi hama dan penyakit menggunakan metode seperti disampaikan pada bab berikutnya. Secara detail monitoring mencatat lokasi dan jumlah individu yang terserang, gejala dan tanda serta perkiraan kerugian dengan menggunakan dasar BSR atau nilai yang ditaksir serta waktu serangan.
2. Kegiatan Tanaman (1 – 3 tahun)
Kegiatan tanaman (1-3 tahun) terdiri dari kegiatan penanaman, pemeliharaan tahun I dan pemeliharaan tahun ke II.
a) Kegiatan penanaman
Kegiatan penanaman terbagi ke dalam beberapa tahapan kegiatan yaitu :
 Persiapan lapangan meliputi kegiatan pembersihan (tumpangsari dilaksanakan bulan Mei; banjarharian bulan Agustus-September) dan pengolahan lapangan (tumpangsari bulan Mei-Agustus; banjarharian 1-2 bulan sebelum penanaman).
 Pembuatan dan pemasangan acir (tumpangsari bulan Agustus-September; banjarharian September-Oktober).
 Pembuatan lubang tanaman (bulan September-Oktober)
 Penanaman (November-Desember)
Pada kegiatan penanaman monitoring dilakukan setiap Triwulan dilakukan oleh Mandor Tanam. Kerentanan pada lokasi tanaman Tahun I terjadi karena terkait siklus tata waktu hama dan penyakit yang bersamaan dengan mulainya musim penghujan.
b) Kegiatan pemeliharaan tanaman tahun II dan III
Pemeliharaan dilakukan pada lokasi tanaman dengan sistem banjarharian meliputi :
 Babat jalur dilaksanakan 3 (tiga) kali dalam satu tahun pada Triwulan I, II dan IV. Pembabatan tanaman secara jalur slebar 2 m pada jalur tanaman pokok.
 Dangir piringan dilaksanakan 2 (dua) kali dalam satu tahun pada Triwulan I dan IV. Dangir piringan berbentuk bundar dengan diameter 1 m pada tanaman pokok, pengisi dan tepi dilakukan pendangiran jalur.
Pada kegiatan pemeliharaan ini monitoring dilakukan setiap selesai pekerjaan dilakukan oleh Mandor Tanam atau Mandor Pelaksana lainnya.
3. Kegiatan Pemeliharaan 4-5 tahun
Kegiatan pemeliharaan 4-5 tahun (pemeliharaan lanjutan) merupakan rangkaian kegiatan silvikultur guna mendapatkan tegakan yang bernilai tinggi. Kegiatan tersebut ditujukan untuk membebaskan tanaman pokok dari gangguan persaingan dengan tumbuhan liar atau semak belukar tanpa mengganggu perakaran tanaman pokok. Kegiatan tersebut berupa :
• Kegiatan penyiangan/pembersihan tumbuhan liar
• Pemangkasan tanaman sela/pagar
• Pangkas cabang (pruning)
• Gebrus jalur
• Pemupukan
Pada kegiatan pemeliharaan ini monitoring dilakukan setiap selesai pekerjaan dilakukan oleh Mandor RKP atau Mandor Pelaksana lainnya.
4. Kegiatan Penjarangan
Penjarangan adalah suatu perlakuan silvikultur berupa pengaturan ruang tumbuh tanaman dan penyeleksian tegakan yang akan dipelihara hingga akhir daur sehingga diperoleh tegakan yang merata (ruang tumbuh tidak rapat), tumbuh sehat dan berbatang lurus dan memperoleh hasil antara dari kegiatan tersebut sehingga pada akhir daur dapat diperoleh tegakan hutan dengan massa kayu besar dan kualitas kayu tinggi. Pada kegiatan Tunjuk Seset Polet (TSP) yang merupakan kegiatan penentuan pohon-pohon yang akan ditebang dalam kegiatan penjarangan. Kriteria dan urutan prioritas pohon yang akan dimatikan adalah sebagai berikut :
• Pohon yang terserang penyakit
• Pohon yang cacat/jelek
• Pohon tertekan yang tingginya kurang dari ¾ peninggi (kecuali bila menimbulkan open plek).
• Pohon yang tumbuhnya abnormal
• Pohon yang terlalu rapat yaitu jaraknya lebih kecil dari jarak rata-rata normal.
Pada kegiatan penjarangan diharapkan tindakan penebangan jangan sampai menimpa pohon-pohon yang ditinggalkan karena hal tersebut dapat mengakibatkan cacat yang berupa patah cabang, luka batang dan sebagainya yang akan mengakibatkan menjadi pintu masuk bagi inger-inger atau HPT yang lainnya.
B. Sistem Silvikultur
Silvilkutur adalah ilmu dan seni dalam mengelola sumberdaya hutan sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Pendekatan silvikultur merupakan pendekatan yang sangat penting dalam pencegahan hama dan penyakit tanaman. Pendekatan silvikultur dapat dianggap sebagai pencegahan hama dan penyakit terpadu, dimana permasalahan terletak pada beberapa faktor yang tidak dapat dikendalikan sehingga strategi diarahkan pada faktor yang dapat dikontrol. Pencegahan hama dan penyakit terpadu merupakan strategi yang menggunakan dan menggabungkan metode pengendalian yang dapat dikontrol dengan tujuan untuk mengendalikan populasi hama pada tingkat yang diterima, tanpa memusnahkan sama sekali yang dapat berakibat menggganggu keseimbangan ekosistem. Hal tersebut dilakukan dengan mengendalikan jumlah populasi hama dan penyakit serta lingkungannya sehingga diperlukan pengetahuan ekologi hama dan penyakit dan makluk hidup yang terkait dengannya.
Pengendalian hama terpadu juga harus mempertimbangkan biaya yang ada, jangan sampai biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pendapatan yang akan diterima. Kondisi lahan dan pengelolaan tegakan yang baik akan meminimalisir dampak kerusakan hama dan penyakit. Pada banyak kasus dijumpai bahwa lahan dengan tingkat drainase dan aerasi baik serta kondisi pH 5,5 – 7 merupakan lahan ”yang tidak nyaman” bagi tempat tinggal hama dan penyakit tanaman. Di sisi lain kondisi lahan yang dikelola dengan tidak memernuhi persyaratan tersebut akan membuat hama dan penyakit merasa cozy. (FAO, tanpa tahun).
Tindakan silvikultur diarahkan untuk mengendalikan populasi hama dan penyakit atau mengelola lingkungan sehingga meminimalkan dampak serangan hama dan penyakit. Efektifitas tindakan silvikultur juga tergantung pada karateristik hama dan penyakit yang menyerang. Cara silvikultur, dilakukan dengan menyediakan lingkungan tempat tumbuh tanaman hutan sehingga dapat diperoleh tanaman sehat dengan produktivitas tinggi. Aplikasi silvikultur untuk penanganan penyakit layu bakteri adalah dengan memperbaiki drainase lahan dan pengaturan jenis tanaman tumpangsari pada tanaman pokok jati/rimba. Kedua langkah tersebut perlu dilakukan agar dapat diperoleh zona perakaran jati yang sarang, tidak jenuh air, sebuah persyaratan yang dibutuhkan bagi budidaya jati yang sehat. Perbaikan drainase lahan dilakukan dengan pembuatan parit-parit drainase khususnya di daerah-daerah dengan topografi datar. Jenis tumpangsari jati – padi cenderung menciptakan lingkungan tempat tumbuh yang buruk bagi tanaman pokok jati.
Beberapa tindakan atau kegiatan yang dilakukan guna melakukan pencegahan hama dan penyakit antara lain :
1. Lingkungan fisik
a) Pengaturan drainase
Pengaturan drainase bertujuan untuk menciptakan sistem tata air mikro yang dapat menciptakan drainase yang baik sehingga tingkat kelembaban pada kondisi yang tidak dapat atau menghambat tumbuh dan berkembangnya hama dan penyakit.
b) Pengolahan tanah
Pengolahan tanah bertujuan untuk menciptakan tingkat aerasi yang baik yang berguna bagi tanaman pokok dan menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi hama dan penyakit.
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan menambahkan pupuk sehingga kandungan humus akan meningkat. Maka kemampuan tanah untuk mengikat air menjadi tinggi dan tanah menjadi tidak mudah kering.
2. Lingkungan Biologi
a) Pemilihan jenis yang tepat
Jenis tanaman dengan sifat resisten terhadap serangan hama dan penyakit dapat diperoleh secara alami atau dengan penerapan bioteknologi berupa pemuliaan pohon. Setiap spesies atau varietas mempunyai mekanisme pertahanan terhadap hama dan penyakit yang berbeda. Pemilihan jenis yang resisten ini tidak dapat bertujuan untuk menghilangkan hama sama sekali karena hama juga mempunyai mekanisme evolusi tersendiri untuk beradaptasi tapi minimal dapat menekan laju perkembangan hama dan penyakit.
Pemilihan jenis yang tepat dapat dilakukan dengan pengamatan umum tegakan yang telah lama tumbuh di tempat (indigenous trees) dengan mempertimbangkan aspek lainnya. Penanaman jenis eksotis harus dicampur dengan jenis lokal guna meminimalisir dampak serangan hama dan penyakit.
b) Pemilihan bibit yang sehat
Pemilihan bibit yang sehat sangat penting dilakukan sebagai upaya pencegahan terhadap HPT yang dicirikan dengan batang kuat, daun segar (hijau dan tidak berlubang), fisik tidak tampak adanya serangan bakteri patogen, dll.
c) Pengaturan pola tanam dan jarak tanam
Pengaturan pola tanam terkait dengan hama dan penyakit ditujukan untuk menciptakan tingkat kelembaban tanah yang tidak terlalu tinggi. Pola tanam dan pemilihan jenis tanaman tumpangsari yang dapat mendukung berkembangbiaknya hama dan penyakit. Pengaturan pola tanam dan jarak tanam disesuaikan dengan jenis tanaman. Pengaturan jenis tumpangsari, perlu dipilih jenis tanaman tumpangsari yang tidak mensyaratkan penggenangan air/tanah dan selalu lembab. Apabila kondisi lahan cenderung lembab agar diupayakan penggantian jenis non jati yang toleran terhadap kelembaban tanah yang tinggi.
d) Pemeliharaan intensif
Kegiatan pemeliharaan intensif dapat dilakukan melalui :
• Pembersihan tanaman dari faktor-faktor pengganggu (gulma, benalu)
• Pemupukan (dilakukan pada awal penanaman, selang 3 bulan/6 bulan, setelah 2 tahun tidak dilakukan pemupukan)
• Pemantauan adanya hama yang harus dilaksanakan secara terus-menerus
e) Penjarangan
Pada kegiatan Tunjuk Seset Polet (TSP) yang merupakan kegiatan penentuan pohon-pohon yang akan ditebang dalam kegiatan penjarangan. Kriteria dan urutan prioritas pohon yang akan dimatikan adalah sebagai berikut :
• Pohon yang terserang penyakit
• Pohon yang cacat/jelek
• Pohon tertekan yang tingginya kurang dari ¾ peninggi (kecuali bila menimbulkan open plek).
• Pohon yang tumbuhnya abnormal
• Pohon yang terlalu rapat yaitu jaraknya lebih kecil dari jarak rata-rata normal.
Pada kegiatan penjarangan diharapkan tindakan penebangan jangan sampai menimpa pohon-pohon yang ditinggalkan karena hal tersebut dapat mengakibatkan cacat yang berupa patah cabang, luka batang dan sebagainya yang akan mengakibatkan menjadi pintu masuk bagi inger-inger dan HPT lainnya.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

IV.1 Kesimpulan
Serangan hama dan penyakit jika tidak dikelola dengan tepat maka akan mengakibatkan ketidakseimbangan ekosistem. Selain dari itu, serangan hama dan penyakit berdampak pada prokduktifitas dan kualitas standing stock yang ada. Diantaranya adalah menurunkan rata-rata pertumbuhan, kualitas kayu, menurunkan daya kecambah biji dan pada dampak yang besar akan mempengaruhi pada kenampakan estetika hutan.
Hama tumbuhan adalah organisme yang menyerang tumbuhan sehingga pertumbuhan dan perkemabanganya terganggu. Hama yang menyerang tumbuhan antara lain tikus, walang sangit, wereng, tungau, dan ulat.
Gangguan terhadap tumbuhan yang disebabkan oleh virus, bakteri, dan jamur disebut penyakit. Tidak seperti hama, penyakit tidak memakan tumbuhan, tetapi mereka merusak tumbuhan dengan mengganggu proses – proses dalam tubuh tumbuhan sehingga mematikan tumbuhan.

IV.2 Saran
1. Pengendalian hama dan penyakit pada hutan tanaman yang menerapkan sistem monokultur harus dikelola dengan baik. Pemilihan teknik pengendalian yang tepat sesuai dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang akan menentukan keberhasilan dan efectivitas pengendalian, dan untuk mengetahui jenis hama dan penyakit yang menyerang perlu dilakukan identifikasi gejala dan atau tanda serta kondisi lingkungan yang mendukung.
2. Pemilihan teknik pengendalian harus mempertimbangkan aspek lingkungan, social dan ekonomi. Sehingga penerapan pengendalian hama penyakit terpadu adalah lebih baik, dan penggunaan pestisida kimia harus diminimalkan. Dan jika dengan terpaksa harus menggunakan pestisida kimia maka aspek keamanan dan keselamatan harus diterapkan serta tidak menggunakan jenis pestisida kimia yang dilarang digunakan di dalam kawasan hutan yang bersertifikasi FSC.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, Pengendalian Hama Penyakit Tanaman, www.elqodar.multiply.com
Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2007. Prosiding Hasil Penelitian dan Pengembangan. Puslitbang SDH Perhutani. Cepu
Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. 2008. Seri Informasi Teknik Pengendalian Hama-Penyakit Tanaman Hutan (Jati, Pinus, Kayu Putih, Sengon). Pusat Penelitian & Pengembangan Perum Perhutani. Cepu.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons