Selasa, 28 April 2009

KELANGKAAN DAN NILAI EKONOMI BUAH TENGKAWANG


Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah HHBK
Oleh
Solihul Hadi
2006071454

     Biji tengkawang (Borneo Illipe nut) merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang penting sebagai bahan baku lemak nabati. Karena sifatnya yang khas, lemak tengkawang berharga lebih tinggi dibanding minyak nabati lain seperti minyak kelapa dan digunakan sebagai bahan pengganti minyak coklat, bahan lipstik, minyak makan dan bahan obat-obatan. Penanaman tengkawang sudah saatnya dilaksanakan terutama di Kalimantan mengingat pohon tersebut merupakan pohon khas Kalimantan dan bijinya bernilai tinggi, sampai sekarang biji tengkawang dipungut dari pohon tengkawang yang tumbuh di hutan alam. Sebagai hasil tambahan bila produksi biji telah menurun, kayunya dapat dipungut untuk dimanfaatkan sebagai salah satu jenis kayu bernilai tinggi yang banyak diminati baik untuk penghara industri kayu lapis maupun industri kayu gergajian. Shorea stenoptera Burck merupakan jenis yang telah dikenal baik sebagai penghasil biji tengkawang yang telah diperniagakan secara luas, terutama untuk tujuan ekspor.
     Nama lain dari tengkawang ini adalah Borneo tallow, kawang kakowang, green butter. Minyak tengkawang diperoleh dari biji buah pohon tengkawang (Shorea sp. dan Isoptera sp.) antara lain tengkawang tungkul (Shorea stenoptera Burck), tengkawang majau (Shorea lepidota BI), tengkawang Liyar (Shorea gysbertsiana Burck), tengkawang terendak (Shorea seminis), termasuk dalam famili Dipterocapaceae. Minyak tengkawang diperoleh dari biji tengkawang yang telah kering yang diperas hingga keluar lemaknya. Oleh rakyat digunakan sebagai minyak goreng dan obat-obatan. Dalam industri digunakan sebagai bahan pembuat lilin, kosmetik, farmasi, pengganti lemak coklat, sabun margarin pelumas dan sebagainya.
Pohon Tengkawang memiliki ketinggian 50 meter ke atas dengan diameter 1 meter lebih. Pohon ini biasa tumbuh di dataran rendah, pinggiran sungaiatau di kawasan pegunungan. Tanaman Tengkawang baru bisa berbuah di atas usia 15 tahun. Buah Tengkawang berbentuk bulat seperti buah sawo dan memiliki beberapa helai rentang sayap di seputar tangkai, sehingga ketika jatuh tidak langsung menghunjam tanah. Secara tradisional, biji Tengkawang bisa digunakan sebagai minyak goreng.
          Biji tengkawang merupakan sumberdaya hutan lain yang bernilai. Buah ini terutama dikumpulkan dari hutan, meskipun beberapa masyarakat suku Dayak juga menanam pohon-pohon Shorea. Di Serawak terdapat sebeleas jenis shorea yang merupakan penghasil buah tengkawang yang penting; ekspor yang terbanyak berasal dari Shorea macrophylla. Di Kalimantan Barat, buah tengkawang terutama berasal dari pohon Shorea macropylla, Shorea beccariana dan Shoorea amplexicanlis, sedangkan pohon penghasil utama buah tengkawang di Kalimantan adalah Shorea pinanga dan Shorea palembenica.
     Biji tengkawang mengandung minyak yang dapat dimakan dan kadang-kadang oleh masyarakat setempat digunakan sebagai penyedap nasi tetapi sebagian besar buah tengkawang diekspor untuk pembuatan permen sebagai pengganti mentega dan coklat, untuk pembuatan sabun, bahan kosmetik, obat-obatan dan makanan ternak. Seperti pada dipterocarpaceae lainnya, pohon tengkawang berbunga dan berbuah tidak teratur dengan tenggang waktu antara dua sampai tujuh tahun. Buah tengkawang berbiji tunggal berkecambah dalam waktu dua atau tiga hari setelah jatuh. Pada waktu biji berkecambah, kandungan minyak pada biji menurun dengan cepat. Oleh karena itu buah tengkawang harus dikumpulkan secepat mungkin setelah jatuh. Buah tengkawang dikumpulkan dari hutan oleh suku Dayak, dibuang kulitnya kemudian dijemur di bawah matahari dan selanjutnya dijual ke pedagang-pedagang Cina. Buah tengkawang merupakan sumber pendapatan penting bagi sebagian masyarakat. Pengumpulan, pengolahan dan penjualan semua terjadi dalam jangka waktu kira-kira enam minggu. Dalam tahun panen yang baik satu rumah panjang suku Dayak Kenyah dapat mengumpulkan lebih dari 10.000 kg dengan nilai 17.000 ringgit Malasyia. Pendapatan ini bagi setiap rumah tangga lebih besar dari yang diperoleh dari pengumpulan gaharu atau dari perkebunan karet di kampung. Panenan seperti ini hanya dapat berkelanjutan bila hutan yang masih ada relatif tidak terganggu.
Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.261/1990 menetapkan 12 jenis tanaman Tengkawang (shorea) sebagai tanaman dilindungi, sehingga tidak diperbolehkan dieksploitasi demi kepentingan apa pun, terutama bahan baku industri kayu lapis Dalam dunia flora, Tengkawang hanya terdapat di Pulau Kalimantan. Hasil penelitian Departemen Kehutanan hingga tahun 1980, memperli-hatkan populasi Tengkawang terbesar berada di Kalimantan Barat. Sebagian kecil berada di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat. Pemda Kalbar kemudian menetapkan tengkawang sebagai maskot.
     Kini, kewibawaan pemerintah menerapkan aturan, demi kelestarian Tengkawang tengah diuji. Pasalnya, sejak 1986, praktek penebangan Tengkawang makin marak, ketika buah Tengkawang harganya jatuh di tingkat petani yang cuma dihargai Rp 500 per kilogram. Padahal sebelum tahun 1980-an, biji Tengkawang sebagai yang bisa dipergunakan untuk bahan baku industri kosmetik dan minyak goreng harganya mencapai Rp 5.000 per kilogram.
     Kondisi ini dimanfaatkan sejumlah pengusaha industri perkayuan. Masyarakat yang kecewa dengan harga biji Tengkawang terus turun, mengambil jalan pintas menebang pohon Tengkawang untuk dijual sebagai bahan baku industri kayu lapis demi kelangsungan asap dapur.
Kepala Dinas Kehutanan Pemda Propinsi Kalimantan Barat, Ir M Arman Malollongan, mengaku saat ini puluhan ribu batang kayu Tengkawang dalam status sitaan, sejak awal Agustus 2001 di sejumlah industri sawmill di Pontianak. Kayu Tengkawang milik masyarakat itu dijual kepada pengusaha lokal pemilik izin hak pemungutan hasil hutan (HPHH) 100 hektare. Tidak menutup kemungkinan pula, para pemilik izin HPHH sendiri sengaja menebang Tengkawang, untuk dijual kepada sejumlah industri sawmill. ”Apabila kondisi demikian ini dibiarkan berlarut-larut paling lama 10 tahun lagi Tengkawang sebagai maskot Kalbar barangkali hanya tinggal nama,” ujar Arman.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Powerade Coupons